MediaMerdeka.com – Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ingin fenomena aura farming yang mendunia lewat aksi bocah asal Riau, Rayyan Arkan Dikha, menjadi inspirasi untuk pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) Indonesia.
Menurut Teuku Riefky, popularitas pacu jalur yang mendunia memperlihatkan bahwa budaya lokal dapat menjadi kekuatan kreatif yang menarik perhatian global. Tantangannya kini merupakan mengubah popularitas tersebut menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan untuk para tersangka ekraf.
“Dunia dapat mengenal Indonesia lewat satu gerakan anak kita. Ini memperlihatkan bahwa kreativitas dapat lahir dari mana saja, termasuk dari tradisi yang hidup di tengah masyarakat sekitar. Tantangannya merupakan, bagaimana kita mengubah perhatian dunia menjadi peluang yang berkelanjutan untuk para tersangka kreatif,” kata Teuku Riefky di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (21/10).
Pernyataan itu disampaikan seusai membuka World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Memasuki penyelenggaraan kelima sejak diinisiasi Indonesia pada 2018, forum ini menjadi ruang untuk berbagai negara demi merumuskan masa depan ekraf global.
Teuku Riefky menilai, fenomena bagaikan aura farming memperlihatkan pertemuan antara budaya, kreativitas generasi muda, dan teknologi digital yang mampu menciptakan daya tarik lintas negara. Potensi tersebut perlu didukung ekosistem yang mebarangkalikan karya kreatif berkembang, menjangkau pasar makin luas, dan memberi manfaat untuk komunitas asalnya.
Salah satu upaya yang dibahas dalam WCCE 2026 merupakan penyusunan Jakarta Vision on Creative Economy. Visi ini dirancang melalui percakapan, konsultasi publik, dan pertukaran gagasan lintas negara.
“Visi Jakarta tidak dimengawali bersama sebuah dokumen. Visi ini dimengawali bersama percakapan,” ujar Teuku Riefky dalam pidato pembukaan.
Proses penyusunan visi tersebut melibatkan 292 partisipan dari 42 negara. Teuku Riefky menginginkan hasilnya tidak berhenti sebagai kesepakatan konferensi, namun menjadi pijakan demi kolaborasi dan aksi nyata dalam mengembangkan ekraf.
“Jakarta Vision sewajibnya bukan menjadi akhir percakapan kita. Visi ini wajib menjadi fondasi untuk langkah setelah itu,” katanya.
Indonesia telah mendorong agenda ekraf di tingkat global melalui WCCE, Bali Agenda for Creative Economy, dan Bali Creative Economy Roadmap. Di dalam negeri, pengembangan sektor ini juga masuk dalam Asta Cita pihak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan diarahkan melalui Rencana Induk Ekonomi Kreatif Indonesia 2026–2045.
Teuku Riefky menginginkan ekraf dapat membuka makin sejumlah kesempatan untuk masyarakat sekitar demi berkarya, berkolaborasi, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan memperoleh nilai tambah dari kekayaan budaya.
“Kalau pakai istilah Rayyan, melalui WCCE 2026, kita ingin ‘Pacu Jalur’ ekonomi kreatif Indonesia dan dunia. Sehingga memberi ruang untuk makin sejumlah orang demi berkarya, berkolaborasi dan merasakan manfaatnya. Dengan kata lain, kita ‘Aura Farming’ di industri ekonomi kreatif,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

