2 Siswa Tewas dalam Penembakan SMP Katolik Filipina, Ditembak dan Bunuh Diri

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Penembakan di lingkungan sekolah kembali mengguncang Filipina setelah seorang siswa tewas bersama tersangka di Zamboanga City. Tragedi berdarah ini menjadi kasus kedua yang melanda institusi pendidikan negara tersebut dalam jangka waktu kurang dari dua bulan.

Aksi penembakan ini membocorkan celah keamanan di kawasan sekolah swasta Ateneo de Zamboanga yang sewajibnya menjadi ruang aman belajar. Pelaku yang merupakan murid kelas sembilan bertindak nekat mengangkut dua jenis senjata api ke dalam area kampus.

Penyelidikan awal kepihak kepolisianan mengungkap bahwa tersangka mengangkut pistol serta senapan semasih belum melepas tembakan secara brutal ke arah para siswa di dalam ruang kelas. Rentetan tembakan tersebut langsung mengakhiri nyawa seorang siswa kelas sepuluh yang menjadi pihak korban sasaran.

Setelah melancarkan aksi mematikannya di kelas, tersangka yang masih berusia remaja tersebut memilih mengakhiri hidupnya sendiri di lokasi kejadian. Pihak kepihak kepolisianan mengonfirmasi tidak ada pihak korban luka tambahan dalam peristiwa mencekam ini.

Presiden universitas, Ernald Andal, menegaskan bahwa situasi di lapangan telah sukses dikendalikan sepenuhnya oleh aparat keamanan dan pihak kampus.

“Kami tidak ingin hal bagaikan ini terjadi. Kami ingin memprioritaskan keselamatan seluruh siswa kami,” ujar Ernald Andal dikutip dari CNN Internasional, Selasa (18/8/2026).

Suasana kepanikan sempat melanda area luar gedung lima lantai tersebut saat orang tua siswa berkumpul menanti kejelasan kondisi kalangan anak mereka. Petugas olah tempat kejadian perkara bersama personel militer dan pihak kepolisian bersenjata lengkap langsung mengamankan seluruh area seluas delapan hektar tersebut.

Peristiwa di Zamboanga ini semakin memperpanjang daftar hitam kekerasan bersenjata yang melibatkan pelajar di kawasan Asia Tenggara. Insiden ini terjadi cuma berjarak sepuluh hari dari aksi pembantaian serupa oleh seorang siswa di pinggiran kota Bangkok, Thailand.

Kasus kekerasan bersama senjata api di lingkungan sekolah sebenarnya tergolong amat jarang terjadi di kawasan Filipina. Pemerintah setempat menerapkan aturan kepemilikan senjata api yang relatif ketat, mencakup pemeriksaan latar belakang hingga evaluasi psikologis berkala untuk calon pemilik.

Meski regulasi hukum ditulis amat ketat, peredaran senjata api ilegal yang longgar di tengah masyarakat sekitar tetap menjadi ancaman nyata. Fenomena ini terbukti berulang kali sukses menembus benteng pertahanan keamanan institusi pendidikan formal.

Semasih belum tragedi di Zamboanga meletus, aksi serupa telah merenggut nyawa tiga siswa dan melukai sekitar 20 orang lainnya di Tacloban City pada Juni lalu. Dalam peristiwa berdarah di sekolah negeri tersebut, dua orang siswa nekat membuka tembakan ke arah teman-teman sekolah mereka sendiri.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *