Nasib Anak Autisme di Gaza, Suara Ledakan Bom Perparah Sistem Pertahanan Saraf

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Serangan militer yang meluluhlantakkan Jalur Gaza tidak cuma merobohkan bangunan, namun juga merusak sistem pertahanan saraf kalangan anak penyandang autisme. Suara ledakan yang terus-menerus memicu kejutan sensorik berat serta kepanikan luar biasa pada kelompok rentan tersebut.

Kondisi ini makin parah lantaran kelangkaan obat-obatan saraf dan hancurnya pusat layanan pendidikan khusus di seluruh kawasan terisolasi itu. Orang tua kini berjuang mandiri tanpa bantuan fasilitas medis yang memadai demi menangani kejang dan tantrum buah hati mereka.

Dampak trauma ini memicu kemunduran drastis pada kemampuan komunikasi dan kemandirian yang telah dibangun kalangan anak tersebut selama bertahun-tahun. Dikutip dari Al Jazeera, gangguan tidur kronis, kecenderungan menyakiti diri sendiri, hingga penurunan respons sosial menjadi ancaman nyata harian.

Ahmed Hatem al-Mahabeel, remaja 16 tahun asal Khan Younis, kini cuma dapat mengepalkan tangan di bawah dagu demi menenangkan sistem sarafnya. Ia merindukan kamar tidur, sekolah, dan akademi sepak bola yang kini rata bersama tanah.

Semasih belum konflik meluas, Ahmed memperlihatkan kemajuan pesat dalam menghafal Al-Quran, menguasai bahasa Inggris, dan berolahraga secara mandiri. Ibu sang remaja menceritakan perubahan drastis yang dialami anaknya setelah ruang aman itu lenyap.

Bagaimana Suara Ledakan Merusak Kondisi Psikologis Anak Autis?

“Ahmed biasa pergi ke masjid dan klub olahraga seorang diri bersama kemajuan yang amat baik, namun perang menghancurkan seluruh yang telah kami bangun,” ujar ibunya, Umm Ahmed.

“Dia menderita sensitivitas ekstrem terhadap suara mendadak; ketika ledakan terdengar, dia merasakan serangan panik parah, menutup telinga, dan bergoyang. Dalam kondisi ketakutan ekstrem, dia menyakiti diri sendiri bersama membenturkan kepalanya ke tanah demi melarikan diri dari suara tersebut,” lanjut Umm Ahmed.

Penderitaan fisik Ahmed bertambah saat kekurangan gizi parah dan defisiensi protein menyebabkan usus buntu remaja tersebut pecah. Komplikasi infeksi luka menciptakan tim medis wajib menjalankan operasi pembedahan perut kedua demi membersihkan infeksinya.

“Dengan kelangkaan makanan, komplikasi menyebabkan infeksi luka, memaksa dokter menjalankan operasi bedah kedua demi membuka perut dan membersihkannya hingga dia pulih,” kenang Umm Ahmed.

Kini Ahmed wajib mengurung diri di dalam ruangan lantaran situasi Gaza yang masih belum sepenuhnya aman. Umm Ahmed memanjatkan harapan terbesar demi pemulihan sang anak di luar wilayah konflik.

Mengapa Kelangkaan Obat Memicu Kejutan Saraf Berat?

“Seluruh harapan kami merupakan agar Ahmed memperoleh kesempatan berobat dan rehabilitasi di luar negeri demi merebut kembali apa yang diambil oleh perang darinya,” kata ibunya.

Spesialis psikologi Diaa Abu Aoun menegaskan bahwa anak autistik amat bergantung pada rutinitas yang tenang demi merasa aman. Ketika wajib tinggal di tenda di tengah ledakan beruntun, otak mereka menyambut baik kejutan sensorik yang tidak sanggup diproses.

“Seorang anak bersama autisme sepenuhnya bergantung pada rutinitas dan ketenangan demi merasa aman,” jelas Diaa Abu Aoun.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *