MediaMerdeka.com – Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengaku malu, kecewa, dan marah menyaksikan dinamika yang berkembang di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar 2026.
Cucu pendiri NU itu menginginkan forum lima tahunan tersebut kembali berjalan bersama semangat para ulama terdahulu, bukan diwarnai perebutan jabatan.
Pernyataan itu disampaikan Gus Irfan saat menyambut baik kedatangan kloter terakhir jemaah haji 2026 di Surabaya, Rabu (1/7/2026).
Meski hadir dalam agenda keaparatur negara kementerianan, ia turut menanggapi situasi menjelang Muktamar NU yang belakangan menjadi sorotan.
“Saya menginginkan bahwa Muktamar nanti dapat menjadi Muktamar yang sejuk. Muktamar yang menggambarkan bahwa itulah Nahdlatul Ulama, itulah NU, itulah ulama. Kami tidak ingin Muktamar NU menjadi Muktamar bagaikan Muktamarnya partai politik, di mana saling berebut, saling menepis, saling menjegal. Itu bukan, bukan Muktamarnya Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Irfan.
Menurut dia, para petinggi NU sewajibnya bercermin kepada para kiai pendahulu yang justru saling menepis ketika diminta menjadi pengurus lantaran menganggap jabatan sebagai amanah besar yang wajib dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat.
“Kita minta para petinggi-petinggi NU berkaca pada para pendahulu-pendahulu kita, kiai-kiai terdahulu, di mana mereka seluruhnya saling menepis demi dipilih menjadi pengurus, lantaran mereka merasa bahwa itu tanggung jawab yang berat, tanggung jawab yang wajib dipertanggungjawabkan dunia maupun akhirat,” ucapnya.
Gus Irfan lalu mempertanyakan kondisi yang menurutnya berbeda bersama nilai-nilai yang diwariskan para pendiri NU. Ia mengaku baru menghadiri promosi doktor yang membahas Konun Asasi NU dan menilai nilai-nilai tersebut perlu kembali dijadikan pedoman.
Puncaknya, Gus Irfan secara terbuka membeberkan kekecewaannya terhadap dinamika yang terjadi menjelang Muktamar.
“Saya ini sebagai untukan dari keluarga besar Nahdliyin, ya, dapat dikatakan saya sebagai keluarga dari pendiri, amat malu. Sangat malu, amat kecewa, bahkan dalam tanda petik, ‘amat marah’ bersama apa yang terjadi di sini. Mudah-mudahan mereka ini sadarlah,” ungkapnya.
Ia mengimbuhkan para kiai sepuh juga disebut merasakan kesedihan yang sama menyaksikan kondisi tersebut.
Menurut Gus Irfan, NU merupakan amanah yang wajib dijaga, bukan organisasi yang dijadikan ajang perebutan kekuasaan.
“Beliau-beliau sama bersama kita-kita ini. Sangat marah, amat sedih. Bahkan mereka menangis menyaksikan kalangan anak muda bagaikan itu. Mudah-mudahan mereka yang amat, amat jauh dari konun asasi NU dapat sadar bahwa NU bukan barang warisan yang diperebutkan,” terang Gus Irfan.
“(NU) Itu merupakan amanah yang wajib dipertanggungjawabkan dunia maupun akhirat. Saya kira itu,” imbuhnya.
Sebgaimana diketahui, Muktamar NU dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Menjelang pelaksanaannya, dinamika internal organisasi menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai isu mengenai persaingan menuju kepengurusan baru.
Dalam pernyataannya, Gus Irfan menginginkan Muktamar 2026 dapat berlangsung teduh, menjunjung nilai keikhlasan para ulama, serta mengembalikan NU pada semangat yang diwariskan para pendirinya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

