Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – PT Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan pasar keuangan domestik masih akan menyikapi tantangan berat pada paruh kedua tahun 2026.

Kombinasi antara depresiasi nilai tukar rupiah, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi, siklus pengetatan moneter, serta arah kebijakan domestik diperkirakan menjadi penahan laju pertumbuhan pasar.

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, membeberkan bahwa ketidaktentuan situasi makroekonomi ini menuntut para tersangka pasar demi meninjau ulang alokasi aset mereka.

“Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidaktentuan kebijakan. Dalam situasi bagaikan ini, strategi yang terlalu agresif masih belum tentu menjadi pilihan terbaik. Karena itu, pendekatan defensif menjadi semakin penting,” ujar Tae Yong Shim dalam acara Media Connect di Jakarta, Jumat (3/7/2026).

BI Hadapi Dilema Stabilitas vs Pertumbuhan

Tae Yong Shim menerangkan, fokus utama Bank Indonesia (BI) sepanjang paruh pertama pada tahun ini tersita pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.

Guna meredam volatilitas, bank sentral telah mengerek BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) secara agresif, dari posisi 4,75 persen pada Maret 2026 menjadi 5,75 persen pada Juni 2026.

Langkah pengetatan ini dinilai laksana pisau bermata dua untuk perekonomian nasional:

Kebijakan BI: Kenaikan BI-Rate 100 bps (ke level 5,75%)

Dampak Positif: Menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan menstabilkan nilai tukar Rupiah.

Dampak Negatif: Menahan laju ekspansi kredit berakibat pertumbuhan ekonomi berpotensi tertahan.

Menurut Shim, siklus pengetatan moneter pada saat ini memiliki kemiripan historis bersama kondisi pada tahun 2018 silam.

Saat itu, BI juga terpaksa mengorbankan pertumbuhan ekonomi demi memulihkan kepercayaan investor asing dan menjaga stabilitas eksternal.

“Masalah utamanya bukan cuma kenaikan suku bunga, namun alasan di balik kenaikan itu. Ketika pasar membaca bahwa kenaikan suku bunga dilakukan demi mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas, investor akan menjadi makin berhati-hati terhadap aset berisiko,” tambahnya.

Dari sudut pandang pasar modal, Samuel Sekuritas menilai koreksi tajam yang terjadi sejumlah waktu lalu sebenarnya telah menciptakan valuasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada pada titik masuk (entry point) yang menarik. Hanya saja, katalis pembalikan arah (rebound) masih belum cukup kuat akibat tersandera risiko kebijakan.

Meskipun tekanan dari isu penyesuaian indeks MSCI diperkirakan telah melewati fase puncaknya, investor disarankan tetap mencermati faktor-faktor struktural bagaikan porsi saham publik (free float), transparansi emiten, hingga risiko penurunan status (downgrade) ke frontier market.

Di sisi lain, Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, menyoroti sektor perbankan yang selama ini menjadi motor penggerak pasar. Meski mencatatkan kinerja tahunan (year-on-year) yang relatif kokoh, emiten bank diprediksi akan menyikapi tekanan margin pada semester II-2026.

“Lingkungan suku bunga yang makin tinggi biasanya mendorong kenaikan biaya dana (cost of funds). Jika proses repricing dana pihak ketiga bergerak makin cepat dibandingkan aset produktif, margin bank akan tetap berada dalam tekanan. Di saat sama, biaya pinjaman yang makin tinggi juga dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur,” pungkas Prasetya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *