MediaMerdeka.com – Upaya pihak pemerintah mengejar swasembada jagung tidak cuma bergantung pada perluasan lahan pertanian. Peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi dinilai menjadi strategi yang jauh makin efektif demi memperkuat ketahanan pangan nasional.
Komitmen tersebut ditunjukkan dalam panen raya jagung yang digelar Bayer Indonesia bersama Keaparatur negara kementerianan Koordinator Bidang Pangan di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana kolaborasi pihak pemerintah, sektor swasta, pihak pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan petani mampu menghasilkan praktik pertanian yang makin modern sekaligus meningkatkan nilai ekonomi usaha tani.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa peningkatan produktivitas merupakan faktor utama demi mencapai target swasembada pangan nasional, terutama di tengah keterbatasan lahan pertanian dan meningkatnya tantangan perubahan iklim.
“Penguatan ketahanan pangan tidak cukup cuma melalui perluasan lahan tanam. Kita perlu meningkatkan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi pertanian. Kolaborasi antara pihak pemerintah, petani, dan sektor swasta bagaikan Bayer menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dapat mendorong sentra produksi daerah menjadi penopang produksi jagung nasional,” ujar Hanif.
Data produksi memperlihatkan tren yang semakin positif. Pada Januari 2026, luas panen jagung pipilan nasional mencapai sekitar 0,24 juta hektare, meningkat 11,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun semasih belumnya yang sebesar 0,22 juta hektare.
Sejalan bersama itu, produksi jagung pipilan kering berkadar air 14 persen diperkirakan mencapai 1,38 juta ton, naik 11,09 persen dibanding Januari 2025 yang mencapai 1,25 juta ton.
Ponorogo menjadi salah satu daerah yang dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung swasembada jagung nasional. Kabupaten ini masuk jajaran 10 besar penghasil jagung di Jawa Timur bersama luas panen mencapai 39.046 hektare pada 2025.
Dari luas tersebut, produksi jagung mencapai 284.242 ton bersama produktivitas rata-rata 7,28 ton per hektare, menjadikan wilayah ini sebagai salah satu lumbung jagung penting di Indonesia.
Pelaksana Tugas Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyebutkan pihak pemerintah daerah terus mendorong pemanfaatan teknologi agar produktivitas pertanian mampu meningkat secara berkelanjutan.
“Sebagai salah satu sentra produksi jagung di Jawa Timur, Ponorogo terus memperkuat kolaborasi lintas sektor demi meningkatkan produktivitas pertanian. Di tengah tantangan yang terus berkembang, pemanfaatan inovasi dan teknologi menjadi langkah penting agar petani mampu meningkatkan hasil panen sekaligus mendukung pencapaian target swasembada jagung nasional,” katanya.
Salah satu bentuk inovasi yang diterapkan dalam panen raya tersebut merupakan penggunaan benih jagung hibrida Dekalb DK19C. Evaluasi teknis di Desa Pijeran memperlihatkan varietas tersebut memiliki performa agronomi yang baik bersama pertumbuhan tanaman yang seragam dan produktivitas yang makin tinggi.
Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia, Aditia Rusmawan, menyebutkan inovasi pertanian wajib mampu menyerahkan manfaat ekonomi secara langsung kepada petani.
Menurutnya, teknologi benih tidak cuma meningkatkan hasil panen, namun juga menolong petani memperoleh keuntungan yang makin besar melalui efisiensi biaya produksi.
“Bagi Bayer, inovasi pertanian wajib menyerahkan manfaat nyata untuk petani. Melalui teknologi benih jagung hibrida Dekalb, kami ingin menolong petani meningkatkan produktivitas dan memperoleh hasil panen yang bernilai ekonomi makin baik,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, Bayer juga akan memperkenalkan dua varietas baru, yakni Dekalb DK19S dan DK09S. Kedua benih bioteknologi tersebut dirancang memiliki perlindungan terhadap hama utama bagaikan penggerek batang dan ulat grayak, sekaligus memiliki toleransi terhadap herbisida Roundup Ready 2.
Selain meningkatkan produktivitas, penggunaan benih unggul juga menyerahkan dampak ekonomi yang signifikan untuk petani. Rendemen pipilan yang tinggi serta kadar air yang makin rendah saat panen mampu menekan biaya pengeringan, berakibat margin keuntungan usaha tani menjadi makin besar.
Petani jagung asal Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Miswanto, mengaku merasakan langsung manfaat penggunaan benih tersebut.
“Sejak memakai benih jagung Dekalb DK19C, pertumbuhan tanaman makin seragam, tongkolnya makin bagus, dan hasil panennya meningkat. Selain produksinya makin tinggi, biaya juga makin efisien lantaran kualitas panennya baik. Pendampingan budidaya dari Bayer juga menciptakan kami makin percaya diri menerapkan teknologi baru di lahan,” katanya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

