Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Jalan-jalan yang semasih belumnya gelap di Desa Wonosobo dan Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi, kini mengawali diterangi lampu penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya hasil program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tak cuma menghadirkan penerangan, para kalangan akademisi juga mengangkut program pemberdayaan berupa pemanfaatan limbah serabut kelapa menjadi briket bernilai ekonomi.

Program tersebut merupakan untukan dari berbagai kegiatan KKN-PPM UGM yang menyasar kebutuhan masyarakat sekitar. Seluruh program disusun melalui diskusi bersama pihak pemerintah desa dan masyarakat sekitar.

Dengan demikian, solusi yang diberikan sesuai bersama persoalan yang dihadapi di lapangan, mengawali dari minimnya penerangan jalan hingga pengelolaan limbah organik.

Delapan Titik Lampu Tenaga Surya

Anggota Tim KKN-PPM UGM Banyuwangi, M. Farkhan Fauzan, menjadi penggagas pemasangan PJU tenaga surya di wilayah tersebut. Ia menyebut ada delapan titik yang dipasang, masing-masing empat di Desa Wonosobo dan empat di Desa Rejoagung.

Salah satu lokasi berada di sekitar Lapangan Wonosobo Sport Center yang dipilih berdasarkan tingkat iradiasi matahari agar panel surya dapat bekerja optimal.

“Kalau demi total titik yang dipasang itu ada delapan, empat di Wonosobo dan empat lagi di Rejoagung,” kata Farkhan saat ditemui di lokasi, Jumat (31/7/2026).

Mahasiswa Teknologi Rekayasa Elektro Sekolah Vokasi UGM angkatan 2023 itu menerangkan program tersebut berangkat dari kondisi jalan desa yang minim penerangan. Sejumlah ruas jalan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan maupun gangguan keamanan.

Dengan biaya sekitar Rp200 ribu per titik, lampu tenaga surya dipilih lantaran makin praktis dipasang tanpa wajib terhubung ke jaringan listrik PLN.

Lampu tersebut mampu menyala optimal selama sekitar delapan jam dan dilengkapi sensor gerak yang akan meningkatkan intensitas cahaya ketika ada orang atau kendaraan melintas.

“Pemilihan lampu tenaga surya sendiri itu berdasarkan tingkat kepraktisannya dalam menginstal… tidak membutuhkan jaringan kabel yang dihubungkan secara langsung ke grid PLN,” ungkapnya.

Menurutnya, penggunaan energi surya menjadi untukan dari upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pengembangan energi bersih dan penanganan perubahan iklim melalui pemanfaatan sumber energi ramah lingkungan.

Serabut Kelapa Disulap Jadi Briket

Selain pembangunan infrastruktur, kalangan akademisi juga mengembangkan program pengolahan limbah serabut kelapa menjadi briket. Koordinator program tersebut, Layla Oktavia, menyebutkan pemilihan briket didasari melimpahnya komoditas kelapa di Desa Wonosobo yang selama ini masih belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Saya lihat di sini tuh komoditasnya kelapa. Jadi barangkali daripada serabut kelapanya itu cuma dibuang, sebenarnya serabut kelapa ini dapat dipakai yang makin bermanfaat,” ujar Layla.

Layla menuturkan briket memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan arang kayu, mengawali dari bentuk yang seragam berakibat panasnya makin merata, waktu pembakaran yang makin lama, hingga abu yang tidak mudah beterbangan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *