Pesanan Ekspor Lesu, Industri Alas Kaki Nasional Masuk Zona Kontraksi

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Industri kulit dan alas kaki menjadi satu-satunya subsektor manufaktur yang merasakan kontraksi pada Juli 2026. Keaparatur negara kementerianan Perindustrian (Kemenperin) menyebut, pelemahan tersebut dipicu turunnya permintaan dari pasar ekspor, bukan lantaran lesunya pasar domestik.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki (ITKAK) Keaparatur negara kementerianan Perindustrian, Rizki Aditya Wijaya, menyebutkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) subsektor kulit, barang dari kulit, dan alas kaki berada di level 48,18, atau di bawah ambang batas ekspansi.

“Kontraksi ini tidak serta-merta memperlihatkan melemahnya struktur industri alas kaki nasional. Melainkan terjadi sejalan bersama adanya tekanan terutama pada korporasi-korporasi yang berorientasi pada ekspor,” kata Rizki kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).

Ia menerangkan, korporasi alas kaki yang berorientasi ekspor mencatat tingkat kontraksi yang makin dalam, yakni 42,22, sementara itu produsen yang menyasar pasar domestik masih berada pada fase ekspansi.

Berdasarkan komponen pembentuk IKI, indeks pesanan baru tercatat sebesar 48,35, indeks produksi 49,39, sementara itu indeks persediaan berada di angka 45,91. 

Kondisi tersebut memperlihatkan produsen tengah menyikapi penurunan pesanan yang berdampak pada penyesuaian volume produksi.

Menurut Rizki, tekanan terhadap industri alas kaki nasional tidak terlepas dari perlambatan perdagangan global.

Mengacu pada data World Footwear, nilai ekspor negara-negara produsen alas kaki utama dunia pada triwulan I 2026 turun 12,3 persen, sementara itu volumenya menyusut 3,2 persen.

Sementara itu, ekspor alas kaki Indonesia juga merasakan penurunan sekitar 10 persen. Di sisi lain, impor alas kaki oleh negara tujuan utama ekspor Indonesia tercatat turun hingga 18 persen.

“Kondisi tersebut memperlihatkan konsumen di negara-negara tujuan ekspor masih berhati-hati dalam menjalankan pembelian,” ujar Rizki.

Ia mengimbuhkan, seluruh korporasi eksportir yang menjadi responden survei menyampaikan penurunan pesanan berasal dari pasar luar negeri. 

Faktor yang teramat sejumlah disebut antara lain melemahnya kondisi ekonomi negara mitra dagang, penurunan harga jual ekspor, serta perubahan kebijakan perdagangan di negara tujuan.

Meski menyikapi tekanan ekspor, Rizki mengonfirmasi kondisi industri alas kaki nasional secara keseluruhan masih terjaga. 

Tingkat utilisasi sektor tersebut masih berada di kisaran 78 persen, sementara permintaan dari pasar domestik tetap memperlihatkan pertumbuhan.

“Perlu kami sampaikan bahwa faktor-faktor pasar ekspor inilah yang memengaruhi penurunan IKI di sektor kulit dan alas kaki,” katanya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *