MediaMerdeka.com – Badan Pusat Statistik (BPS) menginformasikan inflasi bulanan mencapai 0,21 persen pada Agustus 2026, berbalik dari tren bulan semasih belumnya yang mencatat deflasi sebesar 0,14 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Selasa (1/10/2026) menyebutkan inflasi terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
“Kelompok pengeluaran yang mendorong inflasi bulanan terbesar terutama merupakan makanan, minuman, dan tembakau, bersama inflasi sebesar 0,57 persen. Kelompok tersebut menyerahkan andil inflasi sebesar 0,17 persen,” kata Ateng.
Adapun komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama daging ayam ras, bersama andil inflasi sebesar 0,17 persen. Kemudian cabai rawit, ikan segar, dan beras bersama andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen.
Selain itu, kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret putih mesin (SPM) menyerahkan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01 persen.
Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menyerahkan andil terhadap inflasi sebesar 0,03 persen, bersama inflasi sebesar 0,37 persen.
Inflasi kelompok ini terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan sebesar 0,75 persen, yang menyerahkan andil inflasi sebesar 0,02 persen.
Pada Agustus 2026, kelompok transportasi merasakan deflasi sebesar 0,50 persen dan menyerahkan andil deflasi sebesar 0,06 persen.
Adapun komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok transportasi terutama tarif angkutan udara, bersama andil deflasi sebesar 0,06 persen. Bensin juga menyerahkan andil deflasi sebesar 0,03 persen.
Sedangkan dari sisi komponen, inflasi inti (core inflation) dan harga bergejolak (volatile food) merasakan inflasi, sementara harga diatur pihak pemerintah (administered price) merasakan deflasi.
Menurut Ateng, inflasi Agustus 2026 yang sebesar 0,21 persen terutama didorong oleh inflasi pada komponen harga bergejolak, bersama inflasi sebesar 0,88 persen dan berkontribusi sebesar 0,15 persen terhadap inflasi umum.
Komoditas yang dominan menyerahkan andil inflasi pada komponen harga bergejolak terutama daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Sementara itu, komponen inti merasakan inflasi sebesar 0,21 persen bersama andil 0,13 persen. Komoditas yang dominan menyerahkan andil inflasi pada komponen inti terutama emas perhiasan, pelumas atau oli mesin, telepon seluler, serta biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.
Selanjutnya, harga yang diatur oleh pihak pemerintah merasakan deflasi sebesar 0,33 persen bersama andil deflasi sebesar 0,07 persen. Komoditas yang dominan menyerahkan andil deflasi pada komponen harga yang diatur pihak pemerintah merupakan tarif angkutan udara dan bensin.
Adapun secara wilayah, sesejumlah 27 provinsi merasakan inflasi dan 11 provinsi merasakan deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku, masing-masing sebesar 0,81 persen. Sementara deflasi terdalam terjadi di Papua Pegunungan sebesar 1,27 persen.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

