Kurangi Emisi Penerbangan, Bagaimana Pertamina Sulap Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat?

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Selama ini, minyak jelantah makin kerap dipandang sebagai limbah yang telah tidak terpakai. Setelah digunakan demi menggoreng, minyak bekas biasanya berakhir di tempat sampah atau saluran pembuangan.

Namun, anggapan itu mengawali berubah. Di tengah upaya mencari sumber energi bersama emisi makin rendah, minyak jelantah justru dilirik sebagai salah satu bahan baku demi energi alternatif, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) demi penerbangan.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita menyebutkan pengembangan SAF menjadi salah satu arah korporasi dalam membangun bisnis energi yang makin berorientasi pada masa depan. Salah satu bahan baku yang dapat dimanfaatkan merupakan used cooking oil (UCO).

Hal itu disampaikan Arya saat berbicara dalam IdeaFest 2026 dalam sesi “The Human Core of Innovation: Integrity and Transparency in Our Carbon Journey”.

“Cara kita dapat bergeser ke growth strategy yang makin future oriented, yang makin ramah lingkungan. Kita bikin Sustainable Aviation Fuel. Itu yang kita mix,” ujar Arya, Jumat, (04/09/2026). 

Menurut Arya, pemanfaatan minyak jelantah juga tidak cuma berkaitan bersama persoalan lingkungan. Ada peluang ekonomi yang dapat muncul ketika limbah tersebut masuk ke dalam rantai pasok energi.

Minyak jelantah yang dikumpulkan masyarakat sekitar kini dapat disalurkan melalui titik-titik pengumpulan, termasuk di sejumlah SPBU Pertamina.

Used cooking oil itu diperebutkan di luar sana. Jadi, ibu-ibu yang suka ngumpulin minyak jelantah, itu dapat dimiliki uang,” kata Arya.

Dengan demikian, minyak bekas dari dapur tidak lagi sekadar dipandang sebagai sesuatu yang wajib dibuang. Ia dapat menjadi komoditas yang menghubungkan rumah tangga bersama industri energi.

Namun, menjadikan UCO sebagai bahan baku SAF bukan sekadar persoalan mengumpulkan minyak sesejumlah-sejumlahnya.

Ada tantangan demi mengonfirmasi dari mana bahan baku berasal, bagaimana proses pengumpulannya, bagaimana minyak tersebut diproses, hingga ke mana akhirnya disalurkan. Jejak tersebut penting demi mengonfirmasi klaim keberlanjutan dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk itu, PT Pertamina Patra Niaga memperluas sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) menjadi lima lokasi pada 2026. Sertifikasi yang terbit 8 Agustus 2026 tersebut mencakup AFT Soekarno-Hatta, AFT Halim Perdanakusuma, AFT Ngurah Rai, AFT Juanda, dan Integrated Terminal Surabaya.

Sertifikasi tersebut mencakup aspek compliance, governance, traceability, dan chain of custody dalam pengelolaan SAF dan atribut keberlanjutannya.

AFT Juanda juga membuka peluang demi menangkap permintaan SAF dari maskapai di Surabaya dan sekitarnya, sementara Integrated Terminal Surabaya menjadi terminal terpadu pertama Pertamina Patra Niaga yang memperoleh sertifikasi ISCC.

Langkah ini sekaligus mempersiapkan implementasi mandat SAF pihak pemerintah mengawali 2027 dan menjadi untukan dari strategi Pertamina mengembangkan ekosistem biofuel serta bisnis rendah karbon demi mendukung target Net Zero Emission Indonesia 2060.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *