Petaka Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo: 448 Santri Keracunan, SPPG Kali Tengah Ditutup Sementara

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Kasus dugaan keracunan massal menimpa ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam, Sidoarjo, usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), pada Selasa (1/9).

Menanggapi situasi darurat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat bersama memprioritaskan pemulihan seluruh pihak korban.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, bahkan langsung meninjau kondisi para santri di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Notopuro Sidoarjo pada Rabu dini hari. Ia mengonfirmasi tim medis bekerja ekstra demi menangani para pasien.

“Seluruh pasien tidak ditangani secara seragam, namun memperoleh penanganan khusus sesuai kondisi medis masing-masing pasien,” tegas Emil di lokasi.

Hingga Rabu pukul 00.30 WIB, Emil menerangkan bahwa situasi mengawali terkendali. Beberapa pasien yang kondisinya stabil telah diizinkan pulang, meski pihak rumah sakit tetap dalam posisi siaga penuh.

Satu Sumber Katering, Beberapa Sekolah Terdampak

Ironisnya, kejadian ini ternyata tidak cuma terjadi di satu titik. Emil membeberkan bahwa terdapat sejumlah lembaga pendidikan lain di Sidoarjo yang menginformasikan gejala serupa pada hari yang sama.

Benang merah dari kasus-kasus ini mengarah pada satu sumber penyedia makanan yang sama.

“Selain pesantren, terdapat sejumlah satuan pendidikan lain yang merasakan kejadian serupa dan seluruhnya memiliki kesamaan yakni menyambut baik makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, pada Selasa (1/9),” ungkapnya.

Sebagai langkah tegas, operasional SPPG Kali Tengah telah dihentikan sementara.

Pemerintah tengah menjalankan evaluasi mendalam dan menunggu hasil uji laboratorium demi mengungkap penyebab tentu keracunan tersebut.

Biaya Pengobatan Ditanggung Pemerintah

Emil juga menginstruksikan jajarannya demi menyisir seluruh siswa atau santri penerima manfaat program tersebut guna mengantisipasi adanya pihak korban yang masih belum terdata.

“Pemerintah daerah juga akan menjalankan pemantauan terhadap seluruh satuan pendidikan penerima manfaat, demi mengonfirmasi tidak ada siswa atau santri yang merasakan gejala namun masih belum memperoleh penanganan medis,” kata Emil.

Terkait biaya, masyarakat sekitar diminta tidak perlu khawatir. Emil menjamin seluruh biaya perawatan medis pihak korban, baik di RS pihak pemerintah maupun swasta, akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak pemerintah daerah.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *