MediaMerdeka.com – Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) di Indonesia tumbuh pesat. Namun pemanfaatannya di tingkat korporasi dan bisnis dinilai masih belum optimal.
Riset terbaru Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI) bersama OpenAI dan Vriens & Partners membeberkan adanya kesenjangan kapabilitas AI (AI capability gap) yang berpotensi menghambat lonjakan produktivitas ekonomi nasional.
Meskipun Indonesia masuk dalam jajaran lima besar dunia demi penggunaan ChatGPT dalam tugas kompleks bagaikan pemrograman (Codex) dan analisis data, pemanfaatan tingkat lanjut tersebut masih menumpuk di kelompok kecil pengguna individu.
Data OpenAI memperlihatkan pengguna pada persentil ke-95 di Indonesia mengonsumsi hingga 11 kali lipat token penalaran dibandingkan pengguna median.
“Data memperlihatkan pengguna di Indonesia telah memanfaatkan AI demi pekerjaan tingkat lanjut. Namun, penggunaan ini masih terkonsentrasi pada kelompok yang relatif kecil,” kata Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, dikutip Jumat (4/9/2026).
Studi tersebut membeberkan bahwa kesenjangan AI bukan lagi sekadar masalah kemampuan teknis individu, melainkan tantangan kesiapan organisasi dan korporasi.
Mengutip data riset Amazon Web Services (AWS), laporan SEAPPI mencatat baru 10 persen korporasi yang mengadopsi AI di Indonesia yang sukses mentransformasi bisnis mereka secara menyeluruh.
Sementara itu, 57 persen tersangka usaha mengeluhkan keterbatasan keterampilan digital tenaga kerja sebagai hambatan utama dalam mengoptimalkan teknologi AI.
Executive Director SEAPPI, Ed Ratcliffe menyebutkan bahwa fase adopsi awal di Indonesia telah berakhir dan kini industri memasuki tahap krusial.
“Tahap berikutnya merupakan menolong makin sejumlah organisasi memanfaatkan AI demi pekerjaan yang makin kompleks. Hal ini membutuhkan keterampilan praktis, panduan regulasi yang jelas, serta kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Untuk menjembatani celah kapabilitas ini, dunia usaha diimbau merancang ulang (reengineering) proses kerja internal, memfasilitasi perangkat AI berlisensi resmi korporasi, serta mempercepat program reskilling pegawai.
Laporan tersebut mengidentifikasi empat sektor bisnis strategis yang berpotensi meraih efisiensi dan nilai tambah teramat tinggi dari optimalisasi AI.
Pertama ada jasa keuangan dan perbankan. Pemanfaatan AI terkelola demi otomatisasi layanan dan analisis risiko dapat mengacu pada pedoman tata kelola AI dari OJK.
Kedua, layanan kesehatan. Integrasi AI dapat dipakai demi diagnostik dan efisiensi administrasi medis.
Ketiga, pendidikan dan pelatihan lewat komersialisasi AI tutor dan platform pembelajaran berbasis kecerdasan buatan.
Keempat, sektor publik dan pihak pemerintahan bersama modernisasi efisiensi operasional dan sistem pengadaan barang/jasa.
Sementara itu Direktur Jenderal Ekosistem Digital Keaparatur negara kementerianan Komunikasi dan Digital (Komdigi), Edwin Hidayat Abdullah menegaskan bahwa penyerapan AI secara mendalam merupakan kunci Indonesia demi menjadi pusat aplikasi AI (AI application hub) di kawasan ASEAN.
“Pemanfaatan AI diharapkan dapat memperkuat kecerdasan kolektif dan mendorong kemajuan teknologi yang bermuara pada peningkatan produktivitas serta pertumbuhan ekonomi,” jelas Edwin.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

