MediaMerdeka.com – Indonesia masih menang dalam hal perdagangan bersama negara tetangga, Malaysia. Hal ini tercermin dari nilai perdagangan Indonesia yang senantiasa surplus bersama negeri jiran itu.
Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Datuk Seri Johari Abdul Dhani, menyebutkan selama ini negaranya kerap menjalankan impor barang dari Indonesia. Sehingga, hal ini menciptakan neraca perdagangan Malaysia tekor.
Ia memaparkan, total perdagangan antar kedua negara mencapai 114 miliar ringgit atau setara 28 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, Malaysia mengimpor dari Indonesia sebesar 62,6 miliar ringgit, atau sekitar 15,7 miliar dolar AS.
Sementara itu, ekspor Malaysia ke Indonesia mencapai 51 miliar ringgit, atau sekitar 12,8 miliar dolar AS.
“Jadi, secara keseluruhan, Pak Budi memiliki surplus perdagangan bersama kami sekitar 11,4 miliar ringgit. Jadi, kita perlu menjalankan makin sejumlah hal agar kita dapat mengurangi kesenjangan tersebut,” ujarnya, di Kantor Keaparatur negara kementerianan Perdagangan, Kamis (3/9/2026).
Namun, Johari membeberkan, keadaan itu pada pada tahun ini berubah. Setelah pada pada tahun ini, neraca perdagangan Malaysia surplus terhadap Indonesia.
Akan namun, surplus itu masih masih belum seberapa dibandingkan perdagangan semasih belumnya.
“Saya baru diberitahu oleh Pak Budi bahwa demi pada tahun ini, Malaysia baru mencatat surplus sekitar 300 juta dolar AS. Baru enam bulan, surplus kami sekitar 300 juta dolar AS, namun tahun lalu kami telah merasakan defisit sebesar 11,4 miliar ringgit,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan, Budi Susanto, menyebutkan Indonesia tetap akan menjalankan kerja sama perdagangan, meski pada saat ini merasakan surplus terhadap Malaysia.
Setidaknya ada 5 poin kerja sama perdagangan bersama Malaysia diantaranya:
- Kedua negara memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi bilateral antara Indonesia dan Malaysia, termasuk melalui berbagai mekanisme bilateral yang relevan.
- Keuda Negara mengonfirmasi implementasi Perjanjian Perdagangan Perbatasan (Border Trade Agreement) berjalan secara efektif, sekaligus melanjutkan upaya demi memfasilitasi perdagangan lintas batas dan mendukung konektivitas ekonomi, khususnya di kawasan perbatasan Entikong–Tebedu.
- Pembahasan mengenai akses pasar dan fasilitasi perdagangan, termasuk demi produk pertanian dan pangan, bersama tujuan menyelesaikan berbagai persoalan yang masih ada serta memperlancar perdagangan bilateral.
- Kedua Negara memperkuat kerja sama investasi dan mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif di kedua negara.
- Kelima, melanjutkan kerja sama di berbagai bidang lain yang menjadi kepentingan bersama, termasuk perdagangan elektronik (e-commerce), pertanian, sektor halal, serta standardisasi.
“Kami yakin bahwa hasil-hasil tersebut akan semakin mendorong kemajuan hubungan perdagangan dan investasi bilateral serta memperdalam kerja sama ekonomi antara kedua negara,” pungkas Budi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

