Iran Blokir Kawasan Teluk Baru Setelah Militer AS Hantam Tanker Minyak Kharg

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Pemerintah Iran bersiap merilis kawasan terbatas baru di wilayah Teluk beserta pemetaan rute pelayaran khusus yang membelah Selat Hormuz. Langkah ketat ini diambil sesaat setelah aksi saling gempur di jalur laut memicu lonjakan harga minyak dunia.

Langkah tegas Tehran menjadi sinyal perlawanan terbuka atas aksi militer dan sanksi ekonomi Amerika Serikat. Pembatasan lalu lintas kapal di koridor vital energi dunia ini diprediksi bakal memperkeruh eskalasi konflik regional.

Batas wilayah steril tersebut dirancang membentang tepat dari titik dimengawalinya blokade Amerika Serikat hingga meluas ke sekeliling perairan Teluk. Setiap armada kapal yang nekat melintas tanpa izin resmi ditentukan langsung masuk ke dalam daftar sanksi.

“Peta koridor internasional baru yang terletak di perairan Iran dan Oman serta di bawah pengelolaan Iran telah disepakati dan wajib ditandatangani dalam sejumlah hari mendatang,” ujar Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, pada wawancara TV pihak pemerintah.

“Kami cuma akan berkomitmen pada dibukanya Selat Hormuz apabila mereka (pihak Amerika) menghentikan sabotase, ancaman, dan serangan terhadap Iran,” tegas Rezaei.

Rata-rata kapal komoditas yang sanggup melintasi Selat Hormuz merosot drastis hingga menyisa sekitar 10 kapal per hari. Situasi sulit ini mendorong harga minyak mentah Brent merangkak naik hingga menembus angka di atas US$97 per barel.

Eskalasi militer kembali membara usai Komando Pusat AS melancarkan tembakan yang merusak tiga kapal tanker minyak milik Iran. Penyerangan tersebut menyasar armada di luar Pulau Kharg sebagai pusat pengapalan minyak utama milik Tehran.

Aksi gempuran balik tersebut sengaja diluncurkan Washington usai kapal perang mereka diserang oleh Korps Pengawal Revolusi Islam Iran. Ketegangan persenjataan ini menghancurkan kesepakatan gencatan senjata sementara yang sempat dicapai pada Juni lalu.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa otoritas AS wajib menyadari pergeseran konstelasi peta konflik semasih belum terlambat.

“Mulai kini, setiap serangan terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan mendapat respons yang makin cepat, makin berat, dan makin menyakitkan,” kata Qalibaf melalui saluran Telegram miliknya.

Di samping ajang pertempuran senjata, pihak pemerintah Iran kini memfokuskan konsentrasi penuh pada sektor produksi dan pemulihan mata pencaharian masyarakat sekitar. Tantangan berat berupa fluktuasi nilai tukar uang, tingkat pengangguran, hingga laju inflasi melonjak cukup tajam.

Menteri Ekonomi Iran, Ali Madanizadeh, menegaskan bahwa pihak pemerintahannya memilih membalas tekanan Amerika Serikat lewat jalur reformasi struktural internal.

“Mengenai tekanan ekonomi dan isolasi, pemutusan hubungan keuangan, mereka berpikir bersama menekan ekonomi suatu negara, mereka dapat mengubah keputusan rakyatnya,” kata Madanizadeh bagaikan dikutip media pihak pemerintah.

“Saya wajib memperjelas satu hal: Tanggung jawab demi mereformasi ekonomi Iran berada di tangan pihak pemerintah dan rakyatnya, bukan Departemen Keuangan AS,” tambahnya.

Semasih belum pecah krisis pertempuran, negara anggota OPEC ini biasa mengekspor hingga 90 persen minyak mentah secara langsung dari Pulau Kharg. Namun alur distribusi minyak terhenti total semenjak blokade Amerika Serikat mengawali diberlakukan pada pertengahan April.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *