MediaMerdeka.com – Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menganggap partai yang ia pimpin sedang tersandung musibah, menyusul penetapan Ketua DPP Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq sebagai tersangka kasus suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di Kabupaten Bogor.
Penetapan tersangka dalam kasus di lingkungan Keaparatur negara kementerianan ATR/BPN tersebut menciptakan Fahd mencetak hattrick atau demi kali ketiga menjadi tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi.
“Jadi gini, yang pertama bila teman-teman menganggap tentang Golkar ya, ada kadernya, kami menganggap ini sebuah musibah,” kata Bahlil di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Bahlil mengaku Partai Golkar merasa terpukul, dikarenakan bukan keinginan partai bila kadernya terjerat kasus korupsi. Meski demikian, Golkar terus menatap ke depan.
“Dan kami merasa ya terpukul, tapi kita Golkar akan menatap ke depan. Ini merupakan sebuah musibah yang telah barang tentu tidak seluruh orang menginginkan ini. Ya. Kami senantiasa menatap ke depan sebagai partai yang pengalaman,” tutur Bahlil.
Bahlil mengaku Partai Golkar tidak dapat mengontrol satu per satu kader Beringin yang jumlahnya sejumlah.
“Sebagai partai yang sejumlah kadernya, memang kita juga tidak dapat mengontrol satu bersama satu ya,” kata Bahlil.
Ia mengonfirmasi bahwa Partai Golkar menghargai proses hukum yang tengah berlangsung di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Tapi yang terpenting merupakan kita menghargai proses hukum yang berlaku. Kita menjunjung tinggi dan biarkanlah seluruh proses hukum itu kita hargai bersama baik. Ya,” sambung Bahlil.
Mengenai status keanggotaan Fahd di Golkar, apakah telah dipecat atau bagaimana, Bahlil tidak menjawab.
Termasuk saat ditanya mengenai keberadaan politikus Golkar yang juga menjabat Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, yang kini masih misterius dan tengah dicari-cari, Bahlil tidak menjawab.
“Aku rapat lagi ya. Makasih, makasih,” ucap Bahlil sembari berjalan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

