MediaMerdeka.com – Kemilau kehangatan antara Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung diyakini berbanding terbalik bersama kans koalisi mereka di Pilpres 2029.
Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio membeberkan, kemesraan seremonial tersebut terbentur dinginnya kepentingan elektoral partai.
“Prabowo kan tinggal satu periode lagi. Kalau mengawali 2029 sampai 2034, 2034 dia nggak dapat maju lagi. Makanya kecil kebarangkaliannya dia ambil orang, sosok dari partai politik yang berbeda,“ ujarnya saat dimintai pendapat oleh MediaMerdeka.com, Kamis (17/9/2026).
Di balik panggung seremoni yang guyub, masa depan dan keselamatan elektoral Partai Gerindra tetap menjadi harga mati yang mengganjal koalisi tersebut.
“Kalau dia sama Pram 2029 terus menang, jalan nih sampai 2034, itu sama aja dia ngegedein PDI Perjuangan. Bahaya buat Gerindranya. Pramnya gede soalnya, sebagai Wapres, gitu,“ lanjut sosok yang biasa disapa Hensat itu.
Kedekatan kedua figur ini semasih belumnya menyedot atensi saat peluncuran LRT rute Kelapa Gading menuju Manggarai di Jakarta pada Rabu (16/9/2026).
Dalam momentum peresmian itu, Prabowo menepis sekat perbedaan partai bersama mengumbar pujian tulus kepada Pramono.
“Saya wajib akui bila ada kepala daerah yang hebat, ya saya akui dia hebat. Walaupun bukan dari partai saya,“ ungkapnya dalam sesi pidato.
Kebijakan Pramono dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta demi masa promosi LRT pun sarat akan simbolis angka delapan, yang diyakini erat kaitannya bersama Prabowo.
Mulai dari pengenaan tarif Rp8, hingga masa berlaku harga khusus selama 8 hari, terhitung sejak LRT Kelapa Gading–Manggarai beroperasi.
“Selama 8 hari kami akan membebaskan untuk seluruh masyarakat sekitar Jakarta yang akan memakai mengawali kini setelah diresmikan Bapak Presiden, dan nanti akan beroperasi sepenuhnya,“ kata eks Seskab itu.
Akan namun, kehangatan di lintasan rel ibu kota itu diprediksi sekadar basa-basi kenegaraan yang tak akan menembus gelanggang Pilpres 2029.
“Ya ini sebagai kehormatan atau penghormatan saling menghargai dari dua pemimpin dan dari dua tokoh partai politik, gitu,“ pungkas Hensat.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

