MediaMerdeka.com – Kenaikan harga kedelai impor mengawali menciptakan para tersangka usaha tempe rumahan menjerit, kondisi tak lepas dari terus melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS.
Namun, pengrajin tempe di Jakarta Timur tidak punya sejumlah ruang demi menaikkan harga jual lantaran khawatir ditinggalkan pelanggan.
Hamdan, pemilik usaha tempe rumahan di Jakarta Timur, menyebutkan harga kedelai yang digunakannya kini mencapai sekitar Rp600 ribu per karung berisi 50 kilogram atau Rp12.000 per kilogram.
Padahal, pada akhir tahun lalu harga kedelai masih berada di kisaran Rp9.000-Rp10.000 per kilogram.
“Memang ngikutin dolar. Karena ada perang ini kan, jadi ikutin dolar. Kalau naik, kita ikut naik,” kata Hamdan saat ditemui, Rabu (30/9/2026).
Menurut Hamdan, kedelai yang digunakan pengrajin di wilayahnya merupakan produk impor dari Amerika Serikat. Dua merek yang sejumlah beredar antara lain Bola dan Hiu.
Kenaikan harga bahan baku terjadi ketika rupiah masih berada di level yang tertekan. Rupiah ditutup di Rp17.981 per dolar AS pada Selasa (29/9/2026).
Meski biaya produksi meningkat, Hamdan menyebutkan menaikkan harga tempe bukan pilihan. Konsumen dinilai akan langsung memprotes apabila harga dinaikkan.
“Kalau harga naik, pada teriak. Ini kan home industry, bila kita naikin, nggak laku,” ujarnya.
Karena itu, apabila harga kedelai kembali naik, ia makin memilih mengurangi ukuran tempe daripada menaikkan harga jual.
Tekanan biaya tersebut menciptakan pengusaha wajib mengatur ulang pengeluaran. Selain kedelai sekitar Rp1,2 juta, biaya produksi juga mencakup plastik sekitar Rp50 ribu dan daun Rp100 ribu, masih belum termasuk ragi serta biaya lainnya.
Hamdan mengaku masih memperoleh keuntungan sekitar Rp200 ribu per hari. Namun, keuntungan tersebut dapat turun menjadi sekitar Rp170 ribu ketika penjualan sedang sepi.
Ia juga tidak memilih kedelai yang makin murah. Menurutnya, terdapat kedelai bersama harga sekitar Rp500 ribu-Rp550 ribu per karung, namun kualitas hasil fermentasinya kurang sesuai demi produknya.
“Ada harga, ada rupa,” katanya.
Reporter: Esther Nadya
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

