MediaMerdeka.com – Mahasiswa Universitas Jayabaya menyuarakan sejumlah tuntutan dalam aksi demonstrasi memperingati dua tahun pihak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Mereka mendesak pendidikan gratis, akses kesehatan yang mudah dijangkau seluruh masyarakat sekitar, serta evaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam aksi tersebut, kalangan akademisi juga mengangkut keranda bertuliskan ‘keadilan’ sebagai simbol kritik terhadap kondisi hukum di Indonesia.
Presiden Mahasiswa Universitas Jayabaya, Nurkharsima, menyebutkan pendidikan gratis, kemudahan akses kesehatan, dan evaluasi penanganan karhutla menjadi sejumlah tuntutan utama yang mereka suarakan.
“Paling didesak yang pertama tentu pendidikan gratis juga, kita dorong akses kesehatan wajib mudah diakses oleh seluruh kalangan masyarakat sekitar, lalu kita mendesak juga evaluasi penanganan bencana di karhutla itu yang teramat kita desak juga lantaran sejumlah jutaan nyawa yang per pada hari ini terancam,” kata Nurkharsima kepada MediaMerdeka.com di kawasan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Selain menyuarakan tuntutan tersebut, kalangan akademisi mengangkut keranda bertuliskan ‘keadilan’. Nurkharsima menerangkan, keranda itu menjadi simbol kekecewaan kalangan akademisi terhadap pihak pemerintah yang dinilai tidak peduli terhadap keadilan di Indonesia.
“Karena kita lihat bahwa pihak pemerintah pada hari ini telah tidak peduli lagi, di keranda itu kita tuliskan keadilan bahwasanya pihak pemerintah itu tidak peduli akan keadilan di negeri ini,” ujarnya.
Nurkharsima menilai keadilan hukum di Indonesia seolah cuma dapat diakses oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang mereka kritik melalui aksi demonstrasi.
“Dan makin hukum dijadikan alat demi pihak pemerintah yang di mana pihak pemerintah itu senantiasa terasa bagaikan hukum itu keadilan itu cuma dapat diakses oleh mereka-mereka yang memiliki kekuasaan saja,” katanya.
Ia juga menyebut keranda tersebut sebagai simbol hadiah peringatan dua tahun pihak pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurutnya, keranda itu menggambarkan matinya berbagai aspek kehidupan di Indonesia.
“Sebagai hadiah dua tahun Prabowo-Gibran matinya secara aspek di negeri ini,” tutur Nurkharsima.
Melalui demonstrasi tersebut, kalangan akademisi menginginkan pihak pemerintah makin memperhatikan kondisi masyarakat sekitar secara langsung. Nurkharsima mengimbau pihak pemerintah tidak cuma mengandalkan laporan dari orang-orang terdekat, namun juga menyaksikan persoalan yang dihadapi rakyat.
“Dengan aksi kita kali ini pihak pemerintah sadar dan membuka matanya demi bagaimana menyaksikan kondisi real bangsa ini, jangan cuma menyambut baik laporan-laporan dari orang-orang terdekat saja tapi tidak sempat menyaksikan rakyat ke bawah,” ucapnya.
Nurkharsima menyebutkan lokasi aksi di kawasan Medan Merdeka Selatan dipilih agar aspirasi kalangan akademisi makin dekat bersama Istana Kekepala negaraan dan dapat didengar Presiden Prabowo serta Wakil Presiden Gibran.
“Agar makin dekat kepada Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka agar makin terdengar lah suara kita,” katanya.
Berdasarkan pantauan MediaMerdeka.com di lokasi, aksi kalangan akademisi Universitas Jayabaya sempat diwarnai gesekan bersama aparat kepihak kepolisianan. Mahasiswa terlibat aksi saling dorong setelah terhalang saat berupaya mengakses jalan menuju Istana Kekepala negaraan.
Mahasiswa lalu membakar keranda yang mereka bawa sebagai bentuk kekecewaan lantaran terhalang aparat kepihak kepolisianan. Sejumlah kalangan akademisi juga terlihat melemparkan gelas plastik air mineral ke arah pihak kepolisian.
Reporter: Agustin Dwi Anggraini
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

