MediaMerdeka.com – Ekonom Universitas Airlangga, Rumayya Batubara, menilai pemangkasan komisi ojek online (ojol) dapat mengubah arah bisnis para aplikator.
Hal ini lantaran pendapatan utama dari layanan ojol tergerus dari pemangkasan komisi dari 20 persen menjadi 8 persen.
“GoTo sendiri mengakui itu (ada dampak pada pendapatan roda dua). Tapi apakah ini langsung mengancam keberlanjutan bisnis mereka? Tidak otomatis” ujarnya di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Dia menyebutkan para aplikator termasuk Goto dan Grab sejak awal tidak menaruh seluruh telur di satu keranjang.
Mereka bukan cuma aplikasi ojek, namun terdiversifikasi bersama lini bisnis keuangan teknologi atau fintech, ada layanan logistik, dan berbagai lini ekosistem digital lain yang dapat saling menopang.
“Sepanjang 2025, pendapatan bersih fintech GoTo saja tumbuh 62 persen menjadi Rp5,8 triliun. Selain itu, efisiensi operasional berbasis AI juga menjadi salah satu faktor yang menolong GoTo mencetak laba bersih pertama kalinya pada kuartal I 2026. Jadi bila satu lini terkena tekanan regulasi, bukan berarti seluruh bisnis langsung goyah,” jelasnya.
Semasih belumnya, Hans Patuwo, Dirut Goto menyampaikan akan menjalankan empat strategi implementasi komisi ojol.
Pertama, korporasi akan menyesuaikan skema untuk hasil layanan roda dua sesuai arahan Presiden. Langkah ini akan menyesuaikan komponen pendapatan korporasi dari layanan transportasi online roda dua (GoRide).
Kedua, Gojek akan menghentikan “program langganan GoRide Hemat” demi mitra pengemudi. GoRide Hemat nantinya akan mengikuti sistem untuk hasil 8% bagaikan GoRide Reguler.
Ketiga, Gojek terus mengonfirmasi seluruh program kesejahteraan mitra pengemudi tetap menjadi prioritas, bagaikan Program Bonus Hari Raya (BHR), BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, beasiswa demi mitra dan anak mitra pengemudi, Umroh gratis, Bursa Kerja Mitra Gojek, dan Cek Kesehatan Gratis.
Keempat, GoTo akan andalkan ekosistem yang terus bertumbuh dari layanan teknologi finansial, logistik/ pengantaran dan lini bisnis lainnya. “Melalui kekuatan ekosistem dan inovasi yang berkelanjutan, kami optimis dapat menjalankan penyesuaian bersama baik, sekaligus menjaga stabilitas jangka panjang Gojek dan GoTo,” kata Hans.
Sementara, Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia menegaskan pihaknya mengupayakan pendapatan mitra tetap terjaga di tengah dinamika industri pada saat ini.
“Grab akan senantiasa berkoordinasi bersama pihak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan demi mengonfirmasi implementasi Perpres untuk mitra pengemudi transportasi roda dua nantinya akan berjalan bersama lancar,” katanya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

