Biaya Logistik RI Membengkak, Kapal Antre Berhari-hari di Pelabuhan

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 ternyata masih belum sepenuhnya dirasakan sektor riil.

Di balik angka pertumbuhan ekonomi itu, dunia logistik nasional justru menyikapi tekanan berat akibat antrean kapal yang semakin parah di sejumlah pelabuhan utama.

Kemacetan pelabuhan kini mengawali berdampak langsung pada biaya logistik nasional. Kapal yang tertahan berhari-hari di area anchorage menciptakan konsumsi bahan bakar membengkak, jadwal pengiriman berantakan, hingga memicu kerugian berlapis untuk tersangka usaha.

Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya misalnya, waktu tunggu kapal demi sandar di Terminal Peti Kemas (TPK) Berlian rata-rata mencapai 30 jam. Kondisi itu terjadi lantaran lonjakan permintaan layanan masih belum mampu diimbangi kapasitas bongkar muat.

Sementara di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, situasinya bahkan sempat makin parah. Menjelang dan setelah Lebaran 2026, antrean kapal di anchorage mencapai sembilan unit sekaligus bersama waktu tunggu hingga 4-6 hari. Yard Occupancy Ratio (YOR) terminal juga melonjak hingga 90 persen, jauh di atas batas aman 65 persen.

Wakil Direktur Operasi PT Pelayaran Tresnamuda Sejati, H. Sunarno HS, membeberkan dampak antrean kapal tersebut amat besar untuk tersangka usaha pelayaran maupun pemilik barang.

“Biayanya tidak kehitung. Kapal tujuan Jakarta, Surabaya, Semarang, bila wajib menunggu, jadwal seluruh rute berantakan. Shipping cost itu hitungannya dolar. Kita juga sejumlah dikomplain sama pemilik barang. Bahan baku ditunggu di pabrik. Ruginya double-double, dapat rugi, dapat komplain,” ujar Sunarno di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, kerugian bukan cuma berasal dari pemborosan bahan bakar kapal selama menunggu sandar. Efek domino juga merembet ke distribusi logistik darat dan rantai pasok industri.

Akibat kepadatan di Semarang, sejumlah pengusaha di Kawasan Industri Kendal bahkan memilih mengalihkan ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta atau Tanjung Perak Surabaya. Namun solusi tersebut justru memunculkan biaya tambahan yang tidak kecil.

Ketua DPW ALFI Jawa Tengah, Teguh Arif Handoko, menyebut ongkos distribusi darat menjadi jauh makin mahal lantaran pengalihan rute tersebut.

“Ngapain kita kirim ke Surabaya, ngapain ke Jakarta, bila ongkos truknya saja telah plus-minus Rp 8 juta? Ini menambah cost logistik mereka,” kata Teguh.

Ia mengingatkan kapasitas pelabuhan wajib dalam waktu dekat diperluas lantaran pertumbuhan volume peti kemas diperkirakan terus meningkat pada tahun ini.

“Tahun ini minimal naik 10% lagi, dapat 1,1–1,2 juta TEUs. Kawasan industri Jawa Tengah baru berproduksi 30 persen dari kapasitas penuh. Kalau telah penuh seluruh, volume akan jauh makin besar lagi,” ujar Teguh.

Senior Manager Hukum dan Humas PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3, Wahyu Jatmiko, mengakui kapasitas TPK Berlian Surabaya pada saat ini memang masih belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan.

“Masih terdapat waktu tunggu kapal demi bertambat di TPK Berlian bersama waktu rata-rata 30 jam. Kapasitas terminal pada saat ini cuma sanggup melayani 53 call kapal per minggu, sementara permintaan telah melonjak hingga 70 call per minggu,” kata Wahyu.

Untuk mengatasi persoalan itu, Pelindo tengah menyiapkan sejumlah langkah percepatan operasional. Salah satunya bersama menambah dua unit Quay Container Crane (QCC) yang ditargetkan mengawali beroperasi penuh pada akhir Juni 2026.

Selain itu, pengelola terminal juga menyiapkan sistem berthing window dan booking priority demi meningkatkan ketentuan jadwal sandar kapal serta mempercepat arus bongkar muat peti kemas.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *