Indonesia dan Pertamina Perkuat Kolaborasi Hadapi Geopolitik Demi Ketahanan Energi Nasional

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Di tengah kondisi geopolitik dan geoekonomi pada saat ini, Pemerintah Indonesia dan Pertamina memperkuat komitmen demi kolaborasi dalam rangka menjaga ketahanan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa tantangan geopolitik, geoekonomi serta ketegangan politik global pada saat ini melahirkan ketidaktentuan. Pandangan hampir seluruh negara menyaksikan semakin tidak jelas arahnya akan ke mana.

“Dampaknya tidak cuma dirasakan oleh negara-negara yang sedang bertikai, tapi hampir seluruh negara, bahkan hampir seluruh rakyat dunia, termasuk di Indonesia. Tetapi Indonesia wajib saya sampaikan bahwa dari kondisi geopolitik-geoekonomi yang tidak menentu, tumbuh ekonomi pada kuartal pertama,” kata Bahlil pada pembukaan IPA Convex ke-50 yang berlangsung di Ice BSD City pada 20 – 22 Mei 2026.

Ia juga menerangkan bahwa hampir seluruh negara kini berpikir demi melindungi negaranya masing-masing. Hal ini dilakukan baik oleh negara yang mempunyai sumber minyak maupun yang tidak mempunyai sumber minyak.

“Namun kami bersyukur bahwa dalam kondisi bagaikan ini, atas arahan Presiden, wajib dalam waktu dekat mencari alternatif-alternatif energi lain yang tidak cuma mengedepankan BBM yang bersumber dari fosil. Ketika lifting kita tidak tercapai, maka wajib ada cara lain yang kita wajib lakukan,” jelasnya.

Senada bersama itu, Pertamina juga menegaskan komitmennya demi terus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika industri energi global yang semakin kompleks seiring berakhirnya era easy energy, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta gangguan rantai pasok dunia.

Dalam menyikapi tantangan tersebut, Pertamina tetap optimis. Penguatan kolaborasi strategis, akselerasi penerapan teknologi, dan optimalisasi produksi energi domestik menjadi kunci menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

Hal tersebut disampaikan Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, dalam sesi Global Executive Talk bertema “The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas” di ajang yang sama.

“Pada dasarnya, memang era easy energy telah berlalu. Namun apabila kita menyaksikan makin jauh, khususnya di Indonesia, kita masih memiliki peluang yang amat besar. Jadi, untuk para investor, praktisi industri energi, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu sejumlah peluang yang dapat dikembangkan,” ujarnya.

Dalam paparannya, Oki juga menyoroti meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global, khususnya akibat ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi utama dunia. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu volatilitas harga energi dan memengaruhi stabilitas pasokan energi global.

Menurut Oki, Pertamina memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional bersama mengonfirmasi ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan energi di seluruh Indonesia. Karena itu, respons strategis Indonesia tidak dapat cuma bergantung pada diversifikasi impor dan pengelolaan pasokan jangka pendek, namun juga perlu didukung peningkatan produksi minyak dan gas domestik.

“Hal pertama yang kami lakukan merupakan meningkatkan dan memaksimalkan produksi domestik minyak dan gas,” katanya.

Selain penguatan produksi nasional, Pertamina juga menempatkan kolaborasi sebagai strategi utama demi menyikapi tantangan industri energi yang semakin kompleks dan berisiko tinggi.

Ia menyebutkan kemitraan mebarangkalikan korporasi beruntuk keahlian dan pengetahuan demi mengurangi risiko bisnis. Saat ini, Pertamina juga memiliki kemitraan strategis bersama berbagai korporasi energi global. “Kami membutuhkan partnership. Kami memiliki sejumlah korporasi mitra yang amat andal,” katanya.

Di sisi lain, koordinasi bersama pihak pemerintah dinilai menjadi faktor penting demi menjaga keberlanjutan investasi energi. Ketika tingkat pengembalian investasi (rate of return) masih terbatas, diperlukan dukungan melalui perpanjangan masa kontrak, penyesuaian skema untuk hasil, maupun insentif fiskal.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *