MediaMerdeka.com – Emisi karbon dioksida (CO2) di Indonesia masih menjadi tantangan besar di tengah upaya menekan dampak krisis iklim. Sektor energi, industri, dan penggunaan batu bara demi pembangkit listrik masih menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
Data Keaparatur negara kementerianan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperlihatkan sektor energi menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar dalam sejumlah tahun terakhir. Sementara itu, Indonesia Environment & Energy Center (IEC) mencatat Indonesia menyumbang sekitar 2,3 persen emisi karbon global pada 2022.
Di tengah kebutuhan mendesak demi menurunkan emisi, sebuah penelitian terbaru dari Amerika Serikat menawarkan pendekatan yang tidak biasa.
Para ilmuwan di Sanford Underground Research Facility (SURF), South Dakota, menemukan mikroba bawah tanah yang mampu mengonsumsi karbon dioksida dan mengubahnya menjadi mineral padat yang tersimpan di bawah permukaan bumi.
Temuan tersebut membuka peluang baru dalam pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage), yang selama ini dinilai mahal dan membutuhkan infrastruktur besar.
Salah satu peneliti, Tanil Govil, menyebutkan mikroba yang ditemukan memperlihatkan bahwa proses biologis dapat dimanfaatkan demi menolong mengurangi emisi dari sektor industri.
“Mikroba yang kami temukan di SURF menolong membuktikan bahwa reaksi biokimia ini dapat digunakan demi menghilangkan karbon dari emisi pembangkit listrik secara efisien,” kata Govil.
Berbeda bersama metode penyimpanan karbon konvensional, mikroba tersebut menolong mempercepat proses perubahan karbon menjadi mineral padat berakibat karbon dapat tersimpan makin stabil dan tidak mudah kembali terlepas ke atmosfer.
Untuk mengonfirmasi teknologi tersebut dapat diterapkan di dunia nyata, tim peneliti memakai sampel emisi industri dan limbah abu batu bara dalam berbagai pengujian laboratorium.
“Eksperimen laboratorium yang telah kami lakukan didasarkan pada sejumlah sampel emisi yang disediakan oleh industri lokal. Kami mengambil gas buang, dan bahkan abu batu bara sisa, demi diuji di laboratorium dan memvalidasi bahwa teknologi ini akan mampu bekerja di lingkungan industri skala besar,” ujar Govil.
Selain itu, tim peneliti juga mengembangkan alat penyaring bergerak yang mampu menangkap hampir satu ton karbon dioksida per hari. Teknologi tersebut dirancang demi menguji efektivitas metode penangkapan karbon langsung di lokasi industri.
Temuan ini dinilai relevan untuk Indonesia yang masih menyikapi tantangan besar dalam menurunkan emisi dari sektor energi dan industri. Indonesia juga memiliki berbagai kawasan geologi yang berpotensi mendukung penelitian maupun pengembangan teknologi penyimpanan karbon, mengawali dari wilayah bekas tambang hingga kawasan panas bumi.
Meski masih berada pada tahap pengembangan, penelitian ini memperlihatkan bahwa solusi iklim tidak senantiasa datang dari teknologi berskala besar. Proses alami yang dilakukan mikroorganisme di bawah permukaan bumi dapat menjadi inspirasi untuk inovasi rendah emisi di masa depan.
Di tengah target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060, berbagai inovasi bagaikan ini menjadi pengingat bahwa upaya mengurangi emisi membutuhkan kombinasi teknologi, riset, dan pemanfaatan proses alam yang selama ini masih belum sejumlah dimanfaatkan.
Penulis: Natasha Suhendra
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

