MediaMerdeka.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian resmi menunjuk mantan panglima IRGC Mohsen Rezaei sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Langkah strategis ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan militer bersama Amerika Serikat dan sengketa Selat Hormuz.
Penunjukan figur militer senior ini menghadirkan poros penyeimbang baru dalam struktur kekuasaan Tehran. Rezaei dinilai memiliki fleksibilitas politik demi menjembatani faksi konservatif, pihak pemerintah, dan sayap militer.
Kehadiran mantan komandan perang ini memperkuat jaminan politik internal Iran dalam menyikapi perundingan sensitif. Rekam jejak militernya membentengi setiap kesepakatan diplomatik dari tuduhan kompromi dari kelompok garis keras.
Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei juga menerbitkan dekrit khusus yang mengangkat Rezaei sebagai perwakilannya di dewan keamanan tersebut. Dekrit tersebut secara khusus menyoroti pengalaman panjang Rezaei sebagai salah satu tokoh utama masa Perang Iran-Irak.
Rezaei menggantikan Mohammad Bagher Zolghadr yang kini dialih tugaskan menjadi penasihat politik Pemimpin Tertinggi. Jabatan krusial ini semasih belumnya sempat dipegang oleh Ali Larijani semasih belum wafat akibat serangan AS-Israel pada Maret lalu.
Mengapa Penunjukan Mohsen Rezaei Sangat Krusial Bagi Iran?
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi merupakan titik temu strategis antara kekepala negaraan, keaparatur negara kementerianan luar negeri, angkatan bersenjata, dan lembaga intelijen Iran. Posisi sekretaris dewan ini memegang peran kunci dalam merumuskan arah kebijakan luar negeri dan pertahanan negara.
Analis senior Center for Middle East Strategic Studies Abas Aslani menilai Tehran membutuhkan sosok yang mampu mensinkronkan berbagai lembaga pihak pemerintah.
“Mereka membutuhkan seseorang yang dapat mensinkronkan berbagai badan pihak pemerintah,” kata Aslani dikutip dari Al Jazeera.
Menurut Aslani, posisi politik Rezaei tidak jauh berbeda dari pendahulunya dalam isu keamanan.
“Secara politik, dia tidak berbeda jauh dari pendahulunya dalam hal keamanan, namun peran yang dapat dilakukannya di dalam negeri serta menjadi faktor penyeimbang di negara ini amat signifikan dalam hal ini.”
Latar belakang Rezaei di IRGC dan Dewan Pertimbangan Maslahat memberi nilai tambah besar dalam diplomasi bersama AS.
“Saya pikir penting demi memiliki seseorang yang mampu menjangkau berbagai faksi dan berbicara bersama mereka, dan itulah alasan dia dipilih.”
Dukungan Rezaei kepada Mohammad Bagher Ghalibaf pada pemilu 2024 menempatkannya di faksi konservatif moderat. Posisinya berbeda dari kelompok garis keras Saeed Jalili yang menepis keras jalur diplomasi.
Bagaimana Dampak Kepemimpinan Baru Ini Terhadap Diplomasi Dan Militer?
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

