Chatib Basri: Tugas Menkeu Gampang!

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan (Menkeu), Chatib Basri, menilai tugas seorang bendahara negara dalam menyikapi tekanan fiskal di tengah ketidaktentuan global sebenarnya amat sederhana alias gampang.

Menurut Chatib, kerumitan formula ekonomi makro pada akhirnya bermuara pada tiga pilihan kebijakan yang absolut. Jika satu opsi tidak dapat diambil, maka opsi berikutnya wajib dieksekusi.

“Sebetulnya tugas dari Menteri Keuangan itu amat gampang. Dia cuma punya opsi tiga hal: naikkan, potong, pinjam. Itu, cuma tiga itu,” ujar Chatib dalam acara Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Chatib menguraikan, tiga opsi utama pihak pemerintah merupakan menaikkan penerimaan negara (pajak), memangkas pengeluaran (belanja), atau menutup celah pembiayaan lewat utang (pinjaman).

“Kalau Anda tidak dapat naikkan, maka Anda wajib potong. Kalau Anda tidak dapat potong, Anda wajib pinjam (utang). As simple as that,” tandasnya.

Meski opsinya terdengar sederhana, Chatib mengingatkan bahwa situasi ekonomi global dan domestik pada saat ini menciptakan ruang gerak fiskal pihak pemerintah kian sempit. Melemahnya nilai tukar rupiah, perlambatan ekonomi global, hingga tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi tembok penghalang.

Dari sudut pandangnya, menaikkan tarif pajak pada saat ini bukan langkah bijak. Alih-alih menggenjot penerimaan, kebijakan tersebut justru berisiko memukul daya beli masyarakat sekitar dan melumpuhkan aktivitas dunia usaha yang sedang berjuang.

“Masa di dalam situasi ini tax revenue, tax-nya mesti dinaikkan? Nggak barangkali juga,” kata Menkeu periode 2013–2014 ini.

Di sisi lain, opsi menarik utang baru pun menyikapi lampu kuning. Tren suku bunga global yang masih tinggi menciptakan biaya penandatanganan kontrak utang (cost of fund) menjadi terlampau mahal demi dipikul APBN.

“Siapa yang mau pinjam uang kini, cost-nya akan jadi amat mahal,” imbuh Chatib.

Melihat buntunya dua jalan tersebut, Chatib menyarankan pihak pemerintah demi mengambil opsi ketiga, yakni menjalankan rasionalisasi anggaran secara ketat namun strategis.

Langkah memotong belanja secara selektif (cut the spending selectively) dipandang sebagai obat teramat mujarab demi menjaga kredibilitas dan keberlanjutan (sustainability) fiskal di mata investor.

Apalagi, Chatib mencatat bahwa kekhawatiran tersangka pasar pada saat ini bukan tertuju pada fundamental ekonomi nasional secara umum, melainkan pada tata kelola risiko fiskal pihak pemerintah. Hal ini tercermin dari kenaikan premi risiko Indonesia (Credit Default Swap/CDS) yang telah merangkak naik sejak awal tahun.

Bahkan, Chatib menyebut sekitar 23 persen pelemahan kurs rupiah yang terjadi belakangan ini dikontribusi oleh kecemasan pasar terhadap risiko fiskal tersebut.

“Artinya saya dapat bilang bahwa soal kita itu merupakan soal confidence risk. Jadi bila isu ini di-address (ditangani), sebetulnya ada harapan ini dapat diperbaiki,” pungkah Chatib.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *