Lauk Ayam dan Usus Mulai Naik di Warteg, Kelas Menengah Mulai Kurangi Porsi

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Harga makanan di warung tegal (warteg) yang selama ini dikenal sebagai pilihan teramat ramah kantong untuk pekerja dan masyarakat sekitar berpenghasilan menengah ke bawah mengawali merangkak naik. Kenaikan harga lauk, khususnya ayam dan usus, menjadi sinyal bahwa tekanan biaya hidup masih membayangi konsumsi harian masyarakat sekitar.

Di Warteg Indrajaya Bahar, Jakarta Barat, harga ayam naik dari Rp8.000 menjadi Rp10.000 per potong. Sementara lauk usus yang semasih belumnya dijual Rp3.000 kini menjadi Rp4.000. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga bahan baku merasakan penyesuaian dalam sejumlah bulan terakhir akibat rupiah yang terus melemah ke Rp18.000.

“Kalau ayam dari Rp8.000 jadi Rp10.000, usus dari Rp3.000 jadi Rp4.000. Yang lain masih sama, sayur masih Rp2.000 dan ikan Rp8.000,” ujar Suri kepada MediaMerdeka.com, pemilik Warteg Indrajaya Bahar.

Warteg Tak Lagi Semurah Dulu

Kenaikan harga lauk barangkali terlihat kecil, namun untuk pelanggan warteg yang mengandalkan anggaran makan harian terbatas, tambahan Rp2.000 per porsi dapat berdampak signifikan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa makanan rakyat yang selama ini menjadi benteng terakhir konsumsi murah mengawali ikut terdorong oleh kenaikan biaya produksi. Kondisi tersebut berpotensi menggerus daya beli kelompok pekerja informal dan buruh harian yang amat sensitif terhadap perubahan harga makanan.

Di sisi lain, persaingan bisnis warteg juga semakin ketat. Pemilik Warteg Nahda, Faiqo, mengaku jumlah pelanggan masih belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19. Bahkan jumlah warteg di sekitar lokasi usacuma terus bertambah.

Akibatnya, tersangka usaha wajib mencari cara agar pelanggan tetap bertahan meski harga bahan baku meningkat.

“Kadang ada pelanggan yang beli setengah porsi nasi Rp10.000, bila satu porsi sekitar Rp15.000,” kata Faiqo.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi pelanggan mengawali terlihat. Seuntukan konsumen memilih mengurangi porsi makan dibanding wajib mengeluarkan uang makin sejumlah.

Konsumen Mulai Berhemat

Fenomena pelanggan membeli setengah porsi nasi menjadi indikasi bahwa tekanan ekonomi mengawali dirasakan di level teramat bawah. Ketika harga makanan naik, strategi pertama yang dilakukan masyarakat sekitar umumnya merupakan mengurangi kuantitas konsumsi.

Meski demikian, masih belum seluruh warteg merasakan penurunan transaksi.

Di Warteg Grand Bahari, harga nasi ayam masih bertahan di Rp15.000 dan nasi telur Rp10.000. Kenaikan cuma terjadi pada menu nasi ikan yang kini mencapai Rp17.000 per porsi akibat lonjakan biaya minyak goreng dan bahan baku lainnya.

Pemilik Warteg Grand Bahari, Surinah, mengaku kenaikan harga tidak dapat dihindari apabila ingin menjaga keberlangsungan usaha.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *