Menenun Harapan Perempuan Penenun di Timur Indonesia Bersama Giro Kartini

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Dari sudut teras rumah di Lombok, Nisa dan para wanita penenun lainnya menenun harapan untuk keluarga mereka. Dukungan pelatihan dari Giro Kartini menolongnya mengembangkan usaha sekaligus menjaga warisan budaya Sasak.

Mata Khairun Nisa tampak fokus mengikuti setiap helai benang yang direntangkannya di alat tenun kayu tradisional. Jemarinya bergerak terampil, menarik dan menyusun benang membentuk motif Subahnale, motif tenun khas Sasak.

Suara kayu saling beradu terdengar berulang dari teras belakang rumahnya di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Sejak pagi, wanita yang akrab disapa Nisa itu telah duduk di depan alat tenun.

Sedari kecil, Nisa terbiasa menyaksikan ibu dan wanita-wanita lainnya di desa duduk berjam-jam di depat alat tenun mereka masing-masing. Bagi masyarakat sekitar adat Sasak, tenun untukan dari kebudayaan yang terus dijaga lintas generasi.

“Dulu kelas 3 SD diajari nenek menenun, belajar dari yang kecil dulu bikin selendang. Dua tahun lalu dapat buat kain besar sendiri,” kata Nisa saat berbincang bersama MediaMerdeka.com, Jumat (22/5/2026).

Berbekal alat tenun berusia ratusan tahun peninggalan nenek moyangnya, Nisa membangun usaha kain tenun secara mandiri. Awalnya, ibu tiga anak itu menjual kain hasil buatannya ke pengepul. Namun, perputaran uang berjalan lambat. Untuk menyelesaikan selembar kain tenun berukuran dua meter, ia membutuhkan waktu satu bulan. Semakin rumit motif yang dibuat, semakin panjang waktu pengerjaannya.

Kondisi itu menciptakan Nisa berpikir mencari cara agar ia dan wanita penenun lainnya dapat bertahan. Pada 2019, ia menginisiasi kelompok wanita penenun bernama Lumbung Sensek yang kini beranggotakan 28 orang.

Melalui kelompok tersebut, para penenun tidak lagi berjalan sendiri-sendiri dalam memasarkan karya mereka. Mereka saling menolong memenuhi permintaan pembeli hingga beruntuk stok kain tenun yang tersedia.

“Kalau di tempat saya stok habis, nanti diinfokan ke anggota lain siapa yang punya,” ujarnya.

Dalam sebulan, Nisa dan kelompoknya dapat menjual belasan helai kain tenun motif Subahnale, Bintang dan Remawe khas Sasak. Dari penjualan tersebut, ia mengantongi keuntungan sekitar Rp5 juta per bulan.

Meski usacuma perlahan berkembang, perjalanan Nisa tidak senantiasa mulus. Selama ini ia mengandalkan penjualan kain tenun melalui relasi dari mulut ke mulut. Ia masih belum memahami penjualan modern melalui platform digital.

Padahal, karya-karya Nisa telah menembus mancanegara. Kain tenun buatannya sempat dibawa pulang oleh wisatawan asing yang datang ke desanya kembali ke negara asal mereka, bagaikan Australia, Inggris, Belanda, dan China. Keunikan motif khas Sasak menjadi daya tarik tersendiri.

Dari situ Nisa menyadari peluang usacuma masih dapat berkembang makin jauh. Menurutnya, apabila ia mampu memanfaatkan pemasaran digital bersama baik, kain tenun buatannya dapat menjangkau pembeli dari berbagai negara secara langsung.

Kesempatan demi belajar akhirnya datang pada Maret 2025, ketika Nisa mengikuti Pelatihan Perempuan Penenun yang diselenggarakan CIMB Niaga bersama Tenoon, korporasi rintisan yang memberdayakan wanita dan penyandang disabilitas. Dari ratusan pendaftar, Nisa menjadi salah satu dari 10 wanita yang terpilih mengikuti pelatihan tersebut.

Dalam pelatihan tersebut, ia diajari cara mengelola usaha makin profesional, diperkenalkan pemasaran digital, pengelolaan media sosial hingga desain grafis sederhana demi menolong promosi produk.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *