MediaMerdeka.com – Selembar kain putih di tangan kalangan anak penyandang disabilitas perlahan berubah menjadi karya batik penuh warna. Di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, proses membatik bukan cuma menjadi aktivitas seni.
Kesenian itu juga membuka harapan baru agar mereka memiliki bekal keterampilan demi memasuki dunia kerja.
Program tersebut merupakan langkah kolaborasi antara kalangan akademisi Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Najihah Batik melalui pelatihan membatik bersama teknik adaptif memakai metode ciprat.
Pelatihan itu diikuti 25 penyandang disabilitas dari tiga sekolah di wilayah Kecamatan Cluring dan sekitarnya. Berbeda bersama pelatihan membatik pada umumnya yang mengandalkan canting, kali ini peserta diajak memakai teknik ciprat yang dinilai makin ramah untuk berbagai ragam disabilitas sekaligus memberi ruang demi mengekspresikan kreativitas tanpa terikat pola tertentu.
Anggota Tim KKN-PPM UGM Banyuwangi, Febriano Agung Nugroho, menyebutkan program tersebut lahir sebagai respons atas masih terbatasnya kesempatan kerja untuk penyandang disabilitas.
Menurutnya, Desa Tampo yang telah ditetapkan sebagai desa tematik batik memiliki potensi menjadi pusat pelatihan membatik untuk penyandang disabilitas.
“Kami hendak memunculkan satu unique selling point dari desa ini bahwa bila dapat ke depannya ini menjadi satu pusat pelatihan membatik untuk teman-teman difabel,” kata Agung saat ditemui di lokasi KKN, Jumat (31/7/2026).
Tak sekadar pelatihan, tim KKN turut menyusun e-modul membatik adaptif yang nantinya diserahkan kepada sekolah-sekolah luar biasa (SLB).
Modul tersebut diharapkan dapat menjadi panduan untuk guru maupun pendamping berakibat pelatihan tidak senantiasa bergantung pada kehadiran perajin batik.
“Kami menciptakan e-modul ini sebagai satu solusi bahwa mereka tidak perlu mendatangkan atau datang ke pengrajin, tapi mereka telah ada panduannya,” ujarnya.
Teknik Ciprat Dipilih agar Lebih Inklusif
Agung menuturkan bahwa pemilihan teknik ciprat merupakan hasil evaluasi dari program tahun semasih belumnya. Saat itu, pelatihan memakai teknik canting, namun masih belum mampu mengakomodasi seluruh peserta disabilitas.
Teknik ciprat dinilai makin mudah diterapkan sekaligus memberi kebebasan untuk peserta demi menuangkan ekspresi mereka ke dalam karya.
“Teknik ciprat lantaran ini relatif dapat dilakukan oleh seluruh teman-teman disabilitas. Selain itu mampu mengeksplorasi ekspresi mereka tanpa ada satu batasan mereka wajib mengikuti motif-motif tertentu,” tandasnya.
Pemilik Najihah Batik sekaligus Ketua TP PKK Desa Tampo, Umi Najikhah Fikriyah, menyebut inovasi tersebut menjadi pembeda program KKN pada tahun ini.
Menurutnya, keberadaan e-modul juga akan memudahkan guru ketika terjadi pergantian tenaga pendidik berakibat proses pembelajaran membatik tetap dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

