BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di Level 5,50 Persen, Apa Pertimbangannya?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada hari ini.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai keputusan tersebut menjadi pilihan teramat rasional di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang masih rentan, inflasi Indonesia yang meningkat, serta ketidaktentuan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

“Prospek BI Rate, rupiah, dan kebijakan moneter Indonesia menjadi perhatian utama tersangka pasar menjelang pengumuman hasil RDG BI,” katanya saat dihubungi MediaMerdeka.com, Kamis (18/9/2026).

Menurut Josua, peluang Bank Indonesia demi menurunkan suku bunga dalam waktu dekat amat kecil.

Selain lantaran inflasi Mei 2026 telah meningkat menjadi 3,08 persen, pasar juga masih menunggu sinyal kebijakan moneter dari The Fed.

Di sisi lain, peluang kenaikan suku bunga tambahan masih terbuka, meski bukan menjadi skenario utama mengingat BI baru saja menaikkan suku bunga secara agresif dalam RDG mingguan pada 9 Juni 2026.

Kondisi rupiah yang kembali bergerak di bawah Rp18.000 per dolar AS, yakni di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS, turut menyerahkan ruang untuk BI demi menahan suku bunga.

Ia menerangkan bahwa salah satu alasan utama BI berpotensi mempertahankan suku bunga merupakan lantaran dampak dari kenaikan semasih belumnya masih membutuhkan waktu demi bekerja secara optimal.

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Mei dan 25 basis poin pada Juni, berakibat kebijakan tersebut dinilai telah cukup signifikan dalam waktu yang relatif singkat.

Menurutnya, apabila BI kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, pasar dapat menangkap dua pesan yang berbeda.

Di satu sisi, langkah tersebut memperlihatkan ketegasan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun di sisi lain, pasar juga dapat menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih amat serius dan masih belum terkendali.

“Oleh lantaran itu, mempertahankan suku bunga sambil tetap bersikap waspada dinilai sebagai pilihan yang makin seimbang,” jelasnya.

Josua juga menilai, BI memiliki alasan kuat demi menunggu hasil keputusan dan pernyataan The Fed.

Jika bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tanpa menyerahkan sinyal pengetatan yang makin agresif, tekanan terhadap dolar AS berpotensi mereda berakibat BI tidak perlu mengambil langkah pengetatan tambahan.

Sebaliknya, apabila The Fed menyerahkan sinyal kebijakan yang makin ketat, dolar AS berpotensi kembali menguat dan menyerahkan tekanan baru terhadap rupiah.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *