MediaMerdeka.com – Indonesia memilih pengembangan desain chip sebagai langkah awal demi masuk ke industri semikonduktor global. Strategi ini ditempuh di tengah meningkatnya kebutuhan chip dunia dan keterbatasan kapasitas fabrikasi wafer di dalam negeri.
Semikonduktor atau chip kini menjadi komponen penting untuk berbagai sektor industri, mengawali dari otomotif, telekomunikasi, energi, dirgantara, hingga kecerdasan buatan (AI). Ketergantungan terhadap komponen ini menciptakan kemampuan mengembangkan teknologi semikonduktor menjadi salah satu faktor yang menentukan daya saing industri suatu negara.
Namun, Indonesia masih menyikapi tantangan besar demi membangun industri semikonduktor secara mandiri. Salah satunya merupakan masih belum tersedianya kapasitas fabrikasi wafer, berakibat pihak pemerintah memilih desain chip sebagai pintu masuk yang dinilai makin realistis demi dikembangkan pada tahap awal.
Mantan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) semasih belumnya menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor semikonduktor. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal penting untuk pengembangan ekosistem industri semikonduktor nasional.
Menurut AGK, pengembangan industri ini perlu dilakukan melalui langkah konkret dan bertahap, bersama menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menguasai teknologi desain chip.
“Fokus awal kami merupakan menyiapkan SDM yang mampu mendesain chip,” ujar AGK bagaikan dikutip, Kamis (22/10/2026).
Desain chip dipilih lantaran merupakan segmen bernilai tambah tinggi yang bertumpu pada kemampuan sumber daya manusia. Melalui pendekatan tersebut, Indonesia diharapkan dapat membangun kompetensi teknologi semasih belum melangkah ke tahapan industri yang makin kompleks.
Pemerintah semasih belumnya telah menyusun peta jalan semikonduktor yang mencakup empat pilar, yakni material, desain, fabrikasi, perakitan, pengujian, dan pengemasan. Pengembangan desain chip dan talenta ditempatkan sebagai penggerak tahap awal.
AGK menegaskan bahwa pembangunan industri semikonduktor tidak dapat dilakukan secara instan, namun membutuhkan konsistensi dan kesinambungan.
Salah satu upaya demi mengembangkan kemampuan desain chip di Indonesia dilakukan melalui pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) pada 2023.
ICDEC diprakarsai Keaparatur negara kementerianan Perindustrian bersama PT Hartono Istana Teknologi atau Polytron dan pakar desain chip dari 13 perguruan tinggi di Indonesia. Organisasi nirlaba ini dibentuk demi mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan mitra global.
Saat ini, ICDEC bermitra bersama 16 perguruan tinggi dan tujuh tersangka industri. Kolaborasi tersebut diarahkan demi menyiapkan talenta desain chip yang dapat berkontribusi dalam rantai pasok semikonduktor global.
Pada Januari 2026, AGK meresmikan fasilitas ICDEC di ITB Innovation Park, Bandung, bersamaan bersama penyelenggaraan Indonesia Semiconductor Summit 2026.
Tiga bulan lalu, ICDEC menandatangani kerja sama dan surat minat pengembangan sumber daya manusia bersama Intel, National Taiwan Normal University, dan President University.
Upaya pengembangan talenta juga dilakukan melalui pelatihan desain chip bersama Polytron, IMEC Belgia, dan Cadence yang dimengawali pada Oktober 2024 di Kudus. Selain itu, Keaparatur negara kementerianan Perindustrian menandatangani nota kesepahaman bersama Apple yang memuat komitmen riset dan pengembangan di Indonesia melalui ICDEC.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

