MediaMerdeka.com – Anggota Komisi XI DPR RI, Putri Anetta Komarudin, menyerahkan tanggapan terkait pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut bahwa rakyat di desa tidak memakai dolar AS.
Pernyataan Prabowo tersebut muncul di tengah sorotan publik terhadap pelemahan nilai tukar Rupiah yang kian tertekan.
Menurut Putri, pernyataan Presiden Prabowo tersebut wajib dilihat secara utuh sebagai upaya demi menjaga kondusivitas dan menenangkan masyarakat sekitar.
Ia menekankan bahwa fondasi ekonomi Indonesia pada saat ini sebenarnya masih berada dalam posisi yang kokoh.
“Secara utuh, pernyataan Bapak Presiden pada dasarnya demi menenangkan masyarakat sekitar. Karena dari segi fundamental ekonomi, kita masih amat kuat bersama tumbuh 5,11 persen (Kuartal I-2024),” ujar Putri kepada wartawan, Senin (18/5/2026).
Lebih lanjut, politisi Partai Golkar ini menilai bahwa pernyataan Presiden bukan sekadar pelipur lara untuk masyarakat sekitar, melainkan sebuah sinyal kuat untuk otoritas moneter.
Ia menganggap ucapan Prabowo merupakan “pesan tersirat” agar Bank Indonesia (BI) dalam waktu dekat mengambil tindakan nyata.
“Pernyataan beliau justru menyerahkan pesan tersirat kepada Bank Indonesia demi dalam waktu dekat menstabilkan nilai tukar kita yang kini menjadi perhatian masyarakat sekitar,” tegasnya.
Sebagai bentuk tindak lanjut, Putri membeberkan bahwa Komisi XI DPR RI akan dalam waktu dekat memanggil Bank Indonesia dalam Rapat Kerja demi membahas secara khusus mengenai tren pelemahan kurs Rupiah.
Ia mendesak agar BI tidak tinggal diam dan dalam waktu dekat meluncurkan instrumen kebijakan yang efektif.
“Hari ini, kami juga akan menindaklanjuti dalam Rapat Kerja Komisi XI bersama Bank Indonesia, yang di antaranya menyoroti terkait pelemahan kurs Rupiah. Untuk itu, kami mendesak Bank Indonesia agar dalam waktu dekat menjalankan langkah-langkah strategis dalam memperkuat nilai tukar Rupiah,” pungkasnya.
Pernyataan Prabowo
Semasih belumnya, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyerahkan pesan terkait kondisi ekonomi nasional di tengah ketidaktentuan global.
Hal tersebut disampaikan Presiden dalam pidato sambutannya pada peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Di hadapan tamu undangan, Prabowo menepis kekhawatiran sejumlah pihak yang kerap melontarkan narasi bahwa Indonesia akan merasakan kejatuhan (collapse) atau kekacauan (chaos) akibat fluktuasi nilai tukar mata uang.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

