Dua Pidato di DPR Tunjukkan Arah Ekonomi Prabowo Semakin Jelas

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Dua pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR dan penyampaian RAPBN 2027 memperlihatkan semakin jelasnya arah pembangunan ekonomi Indonesia demi sejumlah tahun ke depan.

Penilaian itu disampaikan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian dan ia menyebutkan pidato Prabowo itu merupakan pidato negara pembangunan.

Ia menerangkan semasih belumnya diskusi ekonomi nasional di era Prabowo makin sejumlah berfokus pada pengelolaan APBN, stabilitas makroekonomi, dan reformasi sektoral yang berdiri sendiri. Tapi dalam dua pidato terakhirnya, Prabowo memperlihatkan upaya menyatukan berbagai kekuatan ekonomi nasional ke dalam satu tujuan yang makin besar, yakni peningkatan kesejahteraan rakyat.

“Menurut saya, ini merupakan pidato negara pembangunan. Bukan lantaran negara ingin menjadi pemain utama dalam seluruh aktivitas ekonomi, namun lantaran pihak pemerintah sedang berusaha mengonfirmasi seluruh sumber daya yang dimiliki bangsa ini dapat bergerak bersama menuju tujuan yang sama, yakni pertumbuhan yang makin tinggi, lapangan kerja yang makin luas, dan kesejahteraan yang makin merata,” kata Fakhrul di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Fakhrul menyaksikan, pidato ekonomi Presiden pada tahun ini sebagai upaya membangun optimisme dan arah yang makin jelas untuk perekonomian nasional.

“Kalau saya wajib merangkum pidato ini dalam satu kalimat, saya akan menyebutkan bahwa pihak pemerintah sedang berusaha mengonfirmasi seluruh kekuatan ekonomi Indonesia, baik pihak pemerintah, dunia usaha, pasar modal, perbankan, BUMN maupun masyarakat sekitar dapat bergerak bersama demi menciptakan pertumbuhan yang makin tinggi dan kesejahteraan yang makin luas,” jelas dia.

Fakhrul menilai, berbagai inisiatif yang muncul dalam pidato Presiden sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Inisiatif tersebut mengawali dari Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), Danantara Development Management Fund, Indonesia Financial Center (IFC), bursa komoditas strategis, bank emas, hingga reformasi pasar modal.

Menurutnya, salah satu hal yang menarik dari pidato Presiden merupakan pembangunan tidak lagi semata-mata diletakkan di atas APBN.

Ia menyaksikan, pihak pemerintah mengawali menempatkan dunia usaha, pasar modal, sistem keuangan, BUMN, sumber daya alam, dan masyarakat sekitar sebagai untukan dari mesin pertumbuhan yang sama.

Karena itu, menurut Fakhrul, pesan penting yang muncul dalam pidato pada tahun ini merupakan bahwa pembangunan ekonomi bukan lagi semata persoalan belanja pihak pemerintah, namun bagaimana menciptakan lingkungan yang menciptakan seluruh tersangka ekonomi memiliki ruang demi tumbuh.

Lebih lanjut, Fakhrul memandang salah satu ujian terbesar dari visi pembangunan yang disampaikan Presiden merupakan kemampuan mengembalikan kepercayaan dunia usaha.

Ia mengingatkan bahwa pengalaman semester pertama pada tahun ini memperlihatkan pertumbuhan ekonomi relatif makin sejumlah ditopang oleh aktivitas pihak pemerintah, sementara sektor manufaktur dan sejumlah sektor produktif lainnya masih menyikapi tekanan.

“Pemerintah dapat menjadi katalis, namun pihak pemerintah tidak dapat menjadi satu-satunya mesin pertumbuhan. Pada akhirnya kesuksesan target pertumbuhan ekonomi akan ditentukan oleh seberapa besar sektor swasta kembali berinvestasi, memperluas kapasitas produksi, dan menciptakan lapangan kerja baru,” kata Fakhrul.

Karena itu, menurutnya, berbagai reformasi yang diumumkan wajib diterjemahkan menjadi perbaikan iklim usaha yang nyata.

Meski menyerahkan apresiasi terhadap arah besar yang disampaikan pihak pemerintah, Fakhrul menilai pasar masih menunggu rincian mengenai tahapan implementasi berbagai agenda tersebut.

“Visinya semakin jelas. Tetapi investor dan tersangka usaha biasanya tidak cuma bertanya ke mana kita akan pergi. Mereka juga ingin tahu bagaimana cara mencapainya, apa prioritasnya, dan bagaimana setiap kebijakan akan diterjemahkan menjadi investasi, lapangan kerja, serta peningkatan produktivitas,” kata Fakhrul.

Menurut Fakhrul, tantangan terbesar ke depan untuk pihak pemerintah Indonesia bukan lagi merumuskan visi pembangunan, melainkan mengonfirmasi visi tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang konsisten dan dapat diprediksi.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *