MediaMerdeka.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sesejumlah 111 kabupaten/kota di Indonesia mengawali merasakan kenaikan harga beras hingga minggu kedua Mei 2026.
Meski secara rata-rata nasional harga beras masih relatif terkendali, BPS mengingatkan pihak pemerintah daerah tetap waspada terhadap potensi tekanan yang dapat meluas apabila pasokan terganggu.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebutkan rata-rata harga beras nasional pada saat ini berada di level Rp 15.325 per kilogram. Namun, kenaikan yang mengawali terjadi di ratusan daerah memperlihatkan adanya tekanan berbeda di sejumlah wilayah.
“Rata-rata nasional Rp 15.325 per kilogram. 111 kabupaten kota merasakan kenaikan harga beras,” ujar Amalia dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi, Senin (18/5/2026).
Menurut dia, kenaikan harga beras di tiap daerah amat dipengaruhi kondisi produksi, distribusi, dan masa panen. Karena itu, meski secara nasional masih stabil, sejumlah wilayah mengawali menyikapi tekanan akibat stok yang menipis.
BPS mencatat sejumlah daerah bagaikan Kabupaten Mahakam Ulu, Teluk Bintuni, dan Kabupaten Paser menjadi wilayah yang merasakan kenaikan IPH beras cukup signifikan.
Amalia menerangkan, salah satu penyebab utama kenaikan di sejumlah daerah merupakan masih belum masuknya masa panen serta terbatasnya pasokan di pasar.
“Fenomenanya lantaran stok menipis, lalu masih belum panen, lantaran memang beras masih masih belum panen berakibat barang yang tersedia di pasar masih relatif sedikit,” ujarnya.
Di sisi lain, daerah yang mengawali memasuki masa panen justru memperlihatkan tren penurunan harga. BPS mencontohkan Kabupaten Kapuas yang merasakan deflasi harga beras lantaran suplai meningkat dari panen lokal.
“Fenomenanya lantaran masuknya masa panen,” tutur Amalia.
Selain panen, intervensi pihak pemerintah lewat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga disebut memberi dampak positif. Di Murung Raya, program tersebut dinilai efektif menolong menekan harga beras.
“Pedagang telah mengawali menurunkan harga beras seiring bersama beras program SPHP di Murung Raya,” kata Amalia.
BPS menegaskan beras merupakan salah satu komoditas teramat sensitif terhadap inflasi lantaran memiliki bobot besar dalam pengeluaran rumah tangga masyarakat sekitar Indonesia.
“Beras akan amat berpengaruh terhadap inflasi lantaran memang bobotnya di dalam keranjang konsumsi masyarakat sekitar kita relatif tinggi,” jelasnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

