MediaMerdeka.com – Harga logam mulia di pasar domestik diperkirakan bakal menyikapi tren penurunan pada perdagangan awal pekan ini. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan adanya potensi koreksi pada harga emas dalam negeri yang dipicu oleh fluktuasi serta potensi melemahnya harga emas di pasar dunia akibat dinamika geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global.
Berdasarkan perkembangan pasar terkini, pergerakan instrumen investasi ini terpantau sedang merasakan penyesuaian nilai yang cukup signifikan, mengikuti pergeseran minat investor terhadap aset aman (safe haven).
“Kemudian logam mulianya ditutup di Rp2.769.000 per gram,” kata Ibrahim kepada MediaMerdeka.com, Minggu (17/5/2026) pada hari semasih belumnya.
Apabila tekanan jual di pasar internasional terus merasakan peningkatan hingga mendorong harga emas dunia menembus batas bawah (support) barunya, maka grafik harga logam mulia di dalam negeri pun berisiko terseret turun makin dalam.
Simulasi Dua Skenario Penurunan Harga
Ibrahim memetakan dua skenario teknikal mengenai potensi koreksi harga komoditas logam mulia ini berdasarkan pergerakan nilai emas di pasar global:
Skenario Pertama (Koreksi Ringan): Jika harga emas di pasar internasional melandai hingga menyentuh level support awal di angka US$4.444 per troy ons, maka harga logam mulia domestik diperkirakan akan merasakan pemangkasan sekitar Rp20.000 dari posisi penutupan pada saat ini.
“Kemudian demi logam mulianya kebarangkalian besar turun Rp20.000 di Rp2.749.000 per gram,” ujarnya.
Skenario Kedua (Koreksi Lebih Dalam): Tekanan yang jauh makin berat berpotensi terjadi andai harga emas global terus tertekan hingga menembus batas bawah kedua di level US$4.307 per troy ons.
Jika kondisi ini terjadi, nilai logam mulia lokal diproyeksikan merosot tajam.
“Kemudian logam mulianya di Rp2.685.000 per gram. Jadi ada kebarangkalian demi logam mulia di minggu esok hari bila seandainya melemah, ya, itu di Rp2.685.000 per gram,” beber dia.
Faktor Geopolitik Selat Hormuz dan Redanya Tensi Global
Dinamika pergerakan nilai emas pada saat ini dinilai masih amat sensitif terhadap isu-isu non-ekonomi, khususnya ketidaktentuan geopolitik yang melibatkan wilayah Timur Tengah bagaikan Iran, Israel, serta keterlibatan Amerika Serikat di jalur perdagangan strategis Selat Hormuz.
Menurut analisis fundamental, emas kerap diburu sebagai pelindung nilai ketika tensi politik dunia memanas.
Sebaliknya, apabila eskalasi konflik di kawasan tersebut mengawali mereda dan arus distribusi komoditas energi global kembali berjalan normal, daya tarik emas sebagai aset safe haven otomatis akan berkurang, memicu aksi ambil untung (profit taking) yang menurunkan harga.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

