IHSG Anjlok Parah Saat Rupiah Melemah Rp18.126, Analis Sebut Bisa Lebih Parah

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap dolar AS makin terpuruk. Setelah melewati nilai psikologis di level Rp18.000, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus melanjutkan tren pelemahannya.

Pada pembukaan perdagangan pada hari ini, nilai tukar Rupiah berada di Rp18.126 per dolar AS. Mengutip data kompilasi dari Bloomberg pada Senin (8/6/2026), nilai tukar rupiah tercatat merosot sesejumlah 90 poin atau setara bersama 0,50% apabila disandingkan bersama posisi penutupan pada akhir pekan lalu yang berada di level Rp18.036 per dolar AS.

Depresiasi ini memaksa rupiah kembali tertahan di zona merah, beriringan bersama indeks dolar AS yang sedang merasakan penguatan secara global.

Di tengah fluktuasi mata uang yang tajam, Bank Indonesia (BI) merilis laporan mengenai posisi cadangan devisa (cadev) nasional per akhir Mei 2026.

Jumlah alat pembayaran luar negeri yang dimiliki riil oleh negara tercatat berada di angka 144,9 miliar dolar AS. Angka tersebut memperlihatkan adanya penurunan sebesar 1,3 miliar dolar AS apabila dibandingkan bersama pencapaian pada akhir April 2026 yang sempat mengamankan posisi 146,2 miliar dolar AS.

Otoritas moneter menerangkan bahwa penurunan cadangan devisa ini didikarenakankan oleh adanya pengeluaran rutin negara demi pembayaran utang luar negeri pihak pemerintah.

Efek Domino: IHSG dan Indeks LQ45 Ikut Terkoreksi Tajam

Sentimen negatif dari pelemahan nilai tukar ini langsung menyerahkan dampak linier ke pasar ekuitas domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka ambles secara signifikan pada awal perdagangan pagi ini.

Indeks acuan tersebut terpangkas sebesar 108,46 poin atau anjlok 1,94% menuju posisi 5.486,31.

Kondisi serupa juga menimpa portofolio saham-saham bersama likuiditas tinggi. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 dilaporkan ikut terseret ke zona merah bersama penurunan sebesar 12,06 poin atau melemah 2,16% ke level 545,69. Fenomena ini mengindikasikan adanya aksi lepas portofolio secara massal oleh para pengelola dana.

Melihat fenomena kejatuhan ganda pada rupiah dan pasar saham ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa kondisi ini merupakan akibat dari kombinasi tekanan faktor eksternal dan internal. Ketersediaan data makro dari negeri paman sam yang kokoh memicu kembalinya arus modal ke aset berbasis dolar.

“Rupiah melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang makin baik dari perkiraan dan sentimen domestik menekan rupiah,” kata Lukman.

Lebih lanjut, Lukman mengimbuhkan bahwa penguatan dolar AS di pasar global memperoleh bahan bakar tambahan dari meningkatnya tensi geopolitik yang melibatkan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah.

Situasi konflik yang memanas secara otomatis memicu perilaku tersangka pasar internasional demi mengamankan modalnya ke dalam instrumen aset aman (safe haven), bagaikan mata uang dolar AS dan emas.

Dampak dari pengalihan dana global ini memicu tekanan seketika pada mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah.

Untuk proyeksi pergerakan kurs hingga penutupan pasar sore nanti, rupiah dinilai masih berpotensi bergerak fluktuatif di zona pelemahan. Lukman memprediksi nilai tukar mata uang domestik akan bergerak pada kisaran rentang harga Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.

Disclaimer: Fluktuasi nilai tukar valuta asing dan pergerakan indeks harga saham memiliki tingkat risiko finansial yang amat tinggi dan dapat berubah dalam hitungan detik. Artikel ini disaapabilan murni sebagai produk jurnalisme ekonomi demi pemenuhan hak informasi publik. Seluruh keputusan finansial, transaksi valas, maupun aktivitas investasi yang dilakukan oleh pembaca merupakan tanggung jawab pribadi secara penuh.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *