Kesaksian Akbar Husein soal Tragedi Bawaslu 2019: Ditangkap, Disiksa, hingga Ada yang Meninggal

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Eks Tahanan Politik (Tapol) 2019, Akbar Husein, mengungkap sejumlah fakta memilukan di balik jeruji besi pasca kerusuhan Tragedi Bawaslu Mei 2019. Dalam kesaksiannya, Akbar mengungkap adanya dugaan kekerasan terhadap lansia hingga meninggalnya seorang aktivis di dalam lembaga pemasyarakat sekitaran akibat minimnya layanan kesehatan.

Salah satu poin yang disoroti Akbar merupakan pertemuannya bersama para penumpang mobil ambulans Gerindra asal Tasikmalaya, Jawa Barat, yang sempat viral lantaran dituding mengangkut batu dan bom molotov. Akbar menyebut mereka cumalah masyarakat sekitar daerah yang tidak memahami situasi di Jakarta.

“Itu mobil ambulans Gerindra itu lucu, sebenarnya mobil ambulans Gerindra dari daerah, dari Tasikmalaya bila enggak salah. Isinya itu orang-orang daerah, enggak ngerti Jakarta. Mungkin salah jalan atau gimana, koordinasinya juga enggak ngerti, dan akhirnya ditangkap,” ujar Akbar dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Kamis (28/5/2026).

Akbar lalu menceritakan kondisi tragis seorang pria lanjut usia berusia 71 tahun yang berada di dalam ambulans tersebut saat mereka menempati satu sel tahanan.

“Itu kakek-kakek, umur 71 tahun dihajar. Itu habis. Bapak itu cerita, ‘Dek Akbar, Bapak telah tua, Bapak juga enggak ngerti. Kita ikut-ikutlah lantaran fanatik sama Pak Prabowo.’ Ikutlah sampai ke Jakarta malam itu, malam jahanam, ya bapak ditangkap. Pas ditangkap, darah seluruh itu, babak belur,” kenang Akbar.

Akbar mengaku dirinya ditangkap pada gelombang kedua, sekitar Agustus 2019. Ia menduga telah menjadi Target Operasi (TO) pihak kepihak kepolisianan lantaran terus menyuarakan protes terkait dugaan penyiksaan terhadap rekan-rekannya di tahanan.

“Tujuannya ya itu tadi, pertama kita ingin menyuarakan sampai barangkali internasional lah bahwa Jokowi itu jahat sama teman-teman kita ditangkap, disiksa. Kita minta dibebasin, malah saya yang ditangkap,” tegasnya.

Akbar ditangkap bersama sejumlah rekan lainnya, termasuk para aktivis dan tokoh bagaikan Jali Pitung, Damar, Iwar, serta mentornya, Ir. Mulyono Santoso atau Pak Mul.

Kisah teramat menyedihkan, menurut Akbar, datang dari sosok Pak Mul. Ia membeberkan mentornya itu meninggal dunia saat masih menjalani proses penahanan di Lapas Pemuda Tangerang.

Menurut Akbar, Pak Mul memiliki penyakit bawaan berupa jantung akut yang diperparah oleh terbatasnya layanan kesehatan di dalam lapas.

“Beliau dalam proses penahanan hukum meninggal dunia di dalam sel di Lapas Pemuda Tangerang. Menurut istrinya, Bapak memang ada penyakit jantung akut. Tapi treatment di dalam itu apa adanya. Kalau sakit, teramat bagus itu dikasih Sanmol,” ungkap Akbar.

Ia menggambarkan sulitnya akses layanan kesehatan untuk para tahanan politik saat itu. Menurutnya, para tahanan kerap mengobati diri sendiri bersama cara tradisional.

“Kalau di dalam (penjara) sakit, ya kita jemur di matahari pagi-pagi, atau bila enggak dikerok lah gitu, ya telah, sembuh sendiri kayak gitu. Nah, beliau yang punya penyakit jantung ini enggak ada pelayanan kesehatan yang mumpuni, akhirnya wafat. Menyedihkan, asli,” ujarnya.

Reporter: Tsabita Aulia

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *