MediaMerdeka.com – Investor ritel kini was-was bersama adanya agenda pidato Presiden RI Prabowo Subianto. Pasalnya, mereka khawatir pidato kepala negara itu justru mempengaruhi pergerakan pasar saham maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Bahkan, sejumlah konten kreator menciptakan konten bahwa akan ada badai besar di pasar saham indonesia pada bulan Juli. Pasalnya, selama bulan Juli, Prabowo dijadwalkan akan sejumlah menjalankan pidato.
Data Perdagangan Selama Pidato Prabowo
Dalam catatan MediaMerdeka.com, setidaknya ada tiga momen Prabowo menjalankan Pidato pada belakangan ini. Kami mengambil contoh pada 10 Juni Prabowo berpidato di Munas Hipmi di mana IHSG justru merasakan kenaikan 2,71 persen ke level 5.902.
Namun sayangnya, pada hari itu berdasarkan data Philip Sekuritas Indonesia, investor asing sejumlah mengangkut kabur dananya, di mana jual bersih atau nett sell mencapai Rp2,93 triliun.
Berikut data perdagangan selama Prabowo berpidato:
Pidato Munas Hipmi 10 Juni 2026
Pidato Puncak Pekan Nasional Petani dan Nelayan 24 Juni 2026
Pidato Sarahsehan Kebangsaan KSTI 26 Juni 2026
Korelasi Pidato Prabowo bersama Pasar Saham
Pengamat Pasar Modal Budi Frensidy menyebutkan, tidak dapat menjadi alasan Pidato Prabowo dapat menghancurkan kondisi pasar saham. Memang, ia mengakui bahwa pidato Kepala Negara dapat sebagai salah satu sentimen koreksi IHSG.
“Namun, pergerakan pasar tetap makin dipengaruhi faktor fundamental bagaikan arus dana asing, suku bunga, dan nilai tukar,” ucapnya saat dihubungi MediaMerdeka.com.
Budi melanjutkan, pada saat ini bukan sosok dari Prabowo yang wajib dicermati oleh investor. Justru, makin ke subtansi pesan, di mana apabila memang pidato Prabowo menyerahkan ketentuan arah kebijakan, reformasi, atau langkah konkret yang pro-pasar, maka dampaknya dapat positif
“Sebaliknya, apabila pasar menilai ada ketidaktentuan atau kebijakan yang kurang mendukung iklim investasi, responsnya dapat negatif,” bebernya.
Apa yang Harus Dilakukan Investor
Dalam kondisi yang amat penuh ketidaktentuan ini, Investor ritel wajib cermat dan jangan termakan isu gorengan di media sosial. Budi menyarankan, investor jangan cuma tertuju pada siapa yang berpidato, namun pada subtansi demi mengambil strategi investasi ke depannya.
Sementara, Investment Specialist KISI, Azharys Hardian, menganjurkan investor dapat bersikap hati-hati atau wait and see, mengingat aktivitas nilai transaksi di bursa pada saat ini terpantau cukup sepi dibandingkan pekan lalu, lantaran tersangka pasar cenderung menahan diri.
Upaya ini sembari menyaksikan data-data ekonomi yang menopang pasar mengawali dari neraca perdagangan, PMI manufaktur, hingga data Non-Farm Payrolls (NFP) AS.
“Oleh lantaran itu, strategi teramat rasional untuk investor ritel pada saat ini merupakan mengamankan porsi tunai (cash position) dan menghindari aksi spekulatif yang agresif sampai arah sentimen makro global menjadi makin clear,” imbuh Azharys.
Kembali lagi, keputusan investasi tetap berada di para investor, cuma saja dalam kondisi bagaikan ini jangan gegabah, berakibat menciptakan boncos investasi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

