Sandi Politik di Bumi Ruwa Jurai: Mengapa Jokowi Akhirnya Berseragam PSI?

admin
By
admin
9 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi ke Lampung akhir pekan lalu menjadi makin dari sekadar kunjungan silaturahmi. Kunjungan itu memunculkan sejumlah tafsir politik, terutama lantaran dilakukan setelah Jokowi tak lagi menjabat sebagai kepala negara.

Sejak keberangkatannya, Jokowi telah mencuri perhatian publik. Ia tampil mengenakan seragam Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mengikuti prosesi adat Lampung, hingga menjalankan sujud syukur bersama masyarakat sekitar.

Namun, yang teramat menyita perhatian merupakan saat Jokowi ditanya mengenai makna di balik seragam PSI yang dikenakannya selama safari tersebut.

“Kalau seseorang telah memakai baju itu artinya tahu sendiri,” ucap Jokowi.

Pernyataan singkat itu langsung memantik spekulasi: apakah Jokowi tengah mengirim sinyal politik yang makin tegas tentang masa depannya?

Di hadapan masyarakat sekitar Lampung, Jokowi juga berulang kali menegaskan bahwa dirinya tetaplah sosok yang sama bagaikan semasih belum menjadi Presiden RI.

“Saya ini orang desa, orang kampung,” ujar Jokowi.

Lantas, mengapa Lampung dipilih sebagai titik awal safari politik perdananya? Apa pesan yang ingin disampaikan Jokowi? Dan sejauh mana langkah ini akan memengaruhi konstelasi politik menuju Pemilu 2029?

Mengapa Lampung?

Ketua DPP PSI Bestari Barus membantah adanya makna politik khusus di balik pemilihan Lampung sebagai tujuan pertama safari Jokowi.

Menurut Bestari, seluruh daerah memiliki tempat istimewa untuk Jokowi. Hanya saja, wajib ada satu wilayah yang dipilih sebagai titik awal.

“Jadi wajib ada yang ditempatkan sebagai tempat awal. Tapi bukan berarti lalu yang lain tidak istimewa,” ungkap Bestari.

Ia mengimbuhkan, Lampung dipilih lantaran adanya undangan dari masyarakat sekitar dan relawan yang ingin bertemu langsung bersama Jokowi.

Meski demikian, sejumlah pengamat menyaksikan pemilihan Lampung tidak sepenuhnya lepas dari kalkulasi politik. Lampung selama ini dikenal sebagai salah satu basis dukungan kuat Jokowi dalam sejumlah pemilihan kepala negara.

Penegasan Berpisah dari PDIP?

Jika selama ini posisi politik Jokowi kerap menjadi bahan spekulasi setelah hubungannya bersama PDIP merenggang, maka safari di Lampung seolah menjadi penegasan terbaru.

Jokowi tampil bersama atribut PSI sejak keberangkatan hingga seluruh rangkaian kegiatan di Lampung. Ketika ditanya mengenai makna simbol tersebut, ia kembali menyerahkan jawaban singkat.

“Kalau seseorang telah memakai baju itu artinya tahu sendiri,” ujar Jokowi di Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).

Selama dua hari berada di Lampung, Jokowi mengikuti sejumlah agenda, mengawali dari kegiatan bersama PSI, bertemu masyarakat sekitar dan tersangka UMKM, hingga menghadiri acara adat dan keagamaan.

Ketua DPP PSI Bestari Barus bahkan secara terbuka menyebut pilihan Jokowi mengenakan seragam PSI sebagai penegasan identitas politik barunya.

“Penegasan bahwa beliau telah ada di PSI, dan tidak lagi di partai yang lama-lama itu, PDIP,” jelas Bestari.

Simbol Politik Lewat Prosesi Adat

Sorotan lain muncul ketika Jokowi mengikuti prosesi adat mesol kibau atau menginjak kepala kerbau.

Prosesi itu dilakukan setelah lima kerajaan adat di Lampung menganugerahkan gelar kehormatan tertinggi kepada Jokowi, yakni “Baginda Pemuka Bangsa”.

Pemberian gelar tersebut disebut sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian Jokowi selama memimpin Indonesia sekaligus apresiasi atas pembangunan yang dilakukan di Lampung.

Bagi Jokowi, gelar adat bukan sekadar simbol seremonial. Ia menyebut penghormatan tersebut sebagai amanah moral demi terus menjaga dan merawat identitas kebudayaan Nusantara di tengah arus modernisasi.

PDIP dan Golkar Tak Gentar

Safari politik Jokowi di Lampung turut memunculkan berbagai respons dari partai politik.

PDIP, partai yang sempat membesarkan Jokowi, memilih bersikap santai. Politikus PDIP Mohamad Guntur Romli justru menilai aktivitas politik Jokowi makin ditujukan demi menjaga kesinambungan pengaruh politik keluarganya.

Menurut Guntur, langkah Jokowi bukan semata-mata demi mendukung pihak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, melainkan sebagai investasi politik jangka panjang untuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjelang Pilpres 2029.

“Untuk kepentingan Pilpres 2029 buat Gibran, bukan buat Prabowo. Karena dari pengamalan Jokowi sendiri, tidak ada namanya wapres yang sama di 2 periode,” kata Guntur.

Ia juga menilai safari tersebut merupakan untukan dari upaya mempertahankan eksistensi “Dinasti Jokowi” dalam politik nasional.

Meski demikian, Guntur menegaskan PDIP tidak khawatir apabila PSI berupaya merebut basis pemilih partainya. Menurut dia, langkah Jokowi justru makin berpotensi mengganggu partai-partai lain.

Nada serupa juga disampaikan Partai Golkar. Sekjen Golkar M Sarmuji menegaskan partainya tidak merasa terancam oleh aktivitas politik Jokowi.

Menurut Sarmuji, Golkar tidak khawatir kehilangan pemilih akibat pengaruh Jokowi yang kini semakin dekat bersama PSI.

Membangun Mesin Politik Baru?

Analis Politik Universitas Parahyangan Bandung Kristian Widya Wicaksono menilai rangkaian kegiatan Jokowi di Lampung tidak dapat dipandang sekadar sebagai safari silaturahmi.

Ia menyaksikan ada upaya sistematis demi mengubah modal popularitas personal Jokowi menjadi kekuatan organisasi politik yang makin permanen.

“Rangkaian kegiatan Jokowi di Lampung—mengawali dari mengenakan seragam PSI, mengikuti prosesi adat, hingga narasi kedekatan bersama masyarakat sekitar desa—wajib dipahami sebagai satu kesatuan strategi politik. Tujuannya jelas, yakni memperkuat PSI sebagai mesin politik besar menuju 2029,” beber Kristian kepada MediaMerdeka.com.

Menurutnya, pemilihan Lampung sebagai titik awal safari juga bukan tanpa alasan.
Sebagai wilayah yang selama ini menjadi basis dukungan Jokowi, Lampung dinilai sebagai tempat ideal demi menguji sejauh mana pengaruh politik mantan kepala negara tersebut masih bekerja.

“Dalam mobilisasi politik, seorang aktor biasanya memengawali dari wilayah yang memiliki peluang kesuksesan tinggi. Lampung merupakan basis pendukung kuat Jokowi pada Pilpres semasih belumnya. Memengawali dari ‘kandang’ sendiri menyerahkan efek psikologis dan pemberitaan positif semasih belum merambah ke daerah bersama persaingan makin ketat,” jelasnya.

Selain mengonsolidasikan basis dukungan, safari ini juga dipandang sebagai cara demi mengukur apakah personal branding Jokowi masih efektif menggerakkan massa setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala negara.

Kristian menilai penggunaan seragam PSI menjadi pesan politik teramat eksplisit dalam safari tersebut.

“Jokowi sedang mengaitkan identitas pribadinya secara langsung bersama masa depan PSI. Ia sedang membangun mesin politik yang mampu bekerja secara organik tanpa wajib senantiasa bergantung pada kehadirannya secara langsung di masa depan,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa popularitas Jokowi saja tidak cukup demi menjamin kesuksesan PSI pada Pemilu 2029. Menurutnya, partai tetap wajib mampu merekrut kader berkualitas dan menawarkan program yang relevan untuk publik.

Magnet Politik Jokowi Mulai Memudar?

Pandangan berbeda disampaikan Analis Politik Universitas Esa Unggul M Jamiluddin Ritonga.

Ia menilai harapan akan adanya efek elektoral besar untuk PSI maupun Gibran dari safari Jokowi di Lampung terlalu bermakinan.

Menurut Jamiluddin, sambutan masyarakat sekitar Lampung terhadap kunjungan Jokowi tidak semeriah saat Pilpres 2019.

“Hal itu bertolak belakang bersama dukungan masyarakat sekitar Lampung pada saat Pilpres 2019. Saat itu, 59,71 persen masyarakat sekitar Lampung yang memiliki hak pilih memilih Jokowi,” kata Jamiluddin kepada mediamerdeka.com.

“Jadi, sejumlahnya masyarakat sekitar Lampung yang memilih Jokowi tidak sebanding bersama sambutan yang diterimanya saat safari politik. Bahkan ada seuntukan emak-emak yang demo demi menepis kedatangan Jokowi di Lampung,” sambungnya.

Ia pun menyimpulkan bahwa daya tarik politik Jokowi tidak lagi sekuat ketika masih memegang jabatan kepala negara.

“Jokowi bukan lagi magnet politik yang dapat ‘menghipnotis’ masyarakat sekitar demi mengikuti kehendaknya. Jokowi telah bagaikan layaknya masyarakat sekitar biasa, yang tidak punya power politik,” katanya.

Safari politik perdana Jokowi di Lampung tampaknya bukan sekadar perjalanan nostalgia. Di balik seragam PSI, simbol budaya, dan narasi kedekatan bersama rakyat, tersimpan pertanyaan yang makin besar: apakah Jokowi tengah menyiapkan warisan politik baru menuju 2029?

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *