Semiotika Politik Jokowi: Bukan Sekadar Adat, Injak Kepala Kerbau untuk Serang PDIP?

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Tim Bongkar Ijazah Jokowi (BON JOWI), Lukas Luwarso, menilai aksi Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi menginjak kepala kerbau saat menyambut baik gelar adat di Lampung bukan sekadar untukan dari prosesi adat.

Menurutnya, tindakan tersebut mengandung pesan politik yang ditujukan kepada PDI Perjuangan (PDIP).

Pandangan itu disampaikan Lukas dalam podcast Madilog Forum Keadilan yang tayang pada Selasa (30/6/2026). Ia mengaku telah menuangkan analisis tersebut dalam sebuah tulisan berjudul Semiotika Politik Jokowi Menginjak Kepala.

“Dalam tulisan saya berjudul Semiotika Politik Jokowi Menginjak Kepala, itu ditujukan kepada PDIP, PDI Perjuangan. Kenapa begitu? Karena memang ini kan kick-start awal Jokowi mau mengampanyekan PSI, partai anaknya,” ungkap Lukas.

Menurut Lukas, apabila dikaitkan bersama dinamika politik pada saat ini, PSI cuma dapat memperluas basis dukungannya bersama menggerus suara PDIP.

Atas dasar itu, ia menafsirkan kepala kerbau sebagai metafora kepala banteng yang identik bersama lambang PDIP.

“Kepala kerbau itu kan metafor atau analogi atau sinonim dari kepala bantenglah. Karena kan di Indonesia banteng dilindungi, enggak barangkali boleh dipotong. Nah, itu diinjak, itu satu bahasa politik semiotika yang memperlihatkan dia ingin menginjak PDIP,” jelasnya.

Lukas menegaskan, tafsir tersebut merupakan analisis pribadinya terhadap rangkaian peristiwa yang terjadi saat safari politik Jokowi di Lampung. Karena itu, ia mempersilakan Jokowi menyerahkan penjelasan apabila memiliki maksud berbeda.

“Silakan bila Jokowi mau berupaya menerangkan, akan makin baik bila dia jujur bersama menerangkan maksudnya apa,” katanya.

Selain menyoroti simbol menginjak kepala kerbau, Lukas juga menilai seluruh rangkaian kegiatan Jokowi di Lampung merupakan agenda politik yang dikemas melalui prosesi adat.

“Yang saya lihat merupakan ini satu event yang dibuat, satu teater yang dirancang demi proyek politik. Dan ini satu akrobat politik baru dari Jokowi. Jadi memakai upacara adat demi kepentingan politik partisan, demi kampanye politik,” ujarnya.

Menurut Lukas, kegiatan tersebut tidak semestinya dilakukan lantaran tahapan kampanye Pemilu 2029 masih belum dimengawali. Ia juga mempertanyakan alasan Jokowi yang tampil menjalankan safari politik, bukan Ketua Umum PSI.

“Kalau memang ini merupakan proyek teater demi kampanye PSI sebagai partai baru dan dia ketua baru, kenapa bapaknya?” ujar Lukas.

Lebih lanjut, ia menilai prosesi tersebut berpotensi mencederai nilai-nilai adat Lampung dan mempertanyakan keterlibatan para tokoh adat dalam acara tersebut.

“Nah, yang ketiga saya kira ini telah menodai acara tata adat budaya di Lampung,” tegasnya.

Semasih belumnya, Jokowi menjadi perhatian publik setelah foto dirinya menginjak kepala kerbau saat menyambut baik gelar adat Baginda Pemuka Bangsa di Lampung viral di media sosial.

Prosesi tersebut memunculkan berbagai tafsir di ruang publik.

Sejumlah tokoh adat Lampung lalu menerangkan bahwa penyembelihan kerbau merupakan untukan dari tradisi dalam prosesi pemberian gelar adat. Namun, makna di balik aksi menginjak kepala kerbau masih memunculkan beragam interpretasi dan menjadi perdebatan di tengah masyarakat sekitar.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *