MediaMerdeka.com – Mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menyerahkan catatan kritis terhadap maraknya aksi pembubaran kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” oleh aparat di berbagai daerah.
Lukman menegaskan bahwa perbedaan pandangan terhadap sebuah karya seni sewajibnya tidak direspons bersama tindakan represif.
Lukman mengingatkan bahwa tindakan negara yang merugikan hak-hak masyarakat sekitar, termasuk melalui kebijakan pembangunan nasional, merupakan bentuk kekerasan yang wajib diwaspadai.
“Kekerasan itu yang dilakukan oleh negara contohnya, misalnya, bagaimana sejumlah PSN, proyek strategi nasional, itu jangan sampai menimbulkan kekerasan khususnya pada masyarakat sekitar adat,” ujar Lukman usai menghadiri acara Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia yang digelar Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta Pusat, Minggu (24/5/2026).
Secara khusus, ia juiga menyoroti pembatasan kebebasan berekspresi melalui film dokumenter.
Lukman menilai film merupakan medium informasi yang memiliki nilai edukasi untuk publik, berakibat pelarangan pemutaran dinilai tidak mendidik nalar masyarakat sekitar.
“Termasuk juga bagaimana tontonan-tontonan yang sebenarnya itu mengedukasi lantaran menyerahkan informasi. Tentu seluruh atau setiap tontonan akan menimbulkan pro kontra,” jelasnya.
Lebih lanjut, Lukman menawarkan solusi demokratis dalam menyikapi perbedaan konten sebuah karya.
Ia mendorong pihak-pihak yang tidak sepakat bersama isi film tersebut demi menanggapi bersama argumen intelektual atau karya seni tandingan guna menciptakan dialektika yang sehat.
“Maka untuk yang tidak bersetuju bersama isi sebuah film, misalnya karya seni, ya silakan disikapi bersama menciptakan karya seni yang lain. Sehingga lalu muncul dialektika di tengah-tengah masyarakat sekitar bersama cara bagaikan itu,” tegas Lukman.
Menurutnya, ruang dialog yang terbuka akan menolong masyarakat sekitar demi makin cerdas dalam memproses informasi sesuai bersama nalar dan realita yang ada.
“Kemudian masyarakat sekitar menjadi dididik demi lalu menimbang-nimbang mempertimbangkan mana yang sesuai bersama nalar, yang sesuai bersama logika dan realita kehidupan kita,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

