Mengapa Investor Mulai Menjauh dari Indonesia?

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Intervensi pihak pemerintah di pasar keuangan barangkali mampu menenangkan nilai tukar rupiah dalam hitungan hari. Namun untuk investor global, persoalan utamanya bukan sekadar kurs atau gejolak pasar. Yang makin mereka perhatikan merupakan seberapa efisien sebuah negara mengubah investasi menjadi pertumbuhan ekonomi.

Salah satu indikator yang kini sejumlah disorot merupakan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia. Tingginya ICOR disebut menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Lantas, apa sebenarnya ICOR dan mengapa angkanya begitu penting?

Apa Itu ICOR?

ICOR merupakan indikator yang mengukur berapa besar investasi yang dibutuhkan demi menghasilkan tambahan pertumbuhan ekonomi. Semakin rendah angka ICOR, semakin efisien suatu negara memanfaatkan modal investasi.

Sebaliknya, semakin tinggi ICOR berarti semakin sejumlah dana yang wajib ditanamkan cuma demi menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sama.

Berdasarkan data Asian Development Bank (ADB) yang dikutip Kamis (2/7/2026), rata-rata ICOR Indonesia sepanjang 2020-2024 berada di kisaran 6,2-7,1, jauh makin tinggi dibandingkan Vietnam yang berada di kisaran 3,5-4,0.

Artinya, demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sama, Indonesia membutuhkan modal hampir dua kali makin besar dibandingkan Vietnam.

Mengapa Investor Memperhatikan ICOR?

Bagi investor, efisiensi investasi menjadi pertimbangan utama.

Negara bersama ICOR tinggi memperlihatkan bahwa produktivitas modal relatif rendah. Akibatnya, peluang memperoleh keuntungan juga dinilai makin kecil dibandingkan negara yang mampu menghasilkan pertumbuhan bersama investasi makin sedikit.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut menciptakan investor makin selektif dalam menempatkan modalnya.

Daya Saing Investasi Indonesia Mulai Tertinggal

Data juga memperlihatkan bahwa daya saing investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia mengawali tertinggal dari sejumlah negara ASEAN.

Sepanjang 2024, rasio FDI terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 1,6%, sementara Vietnam mencapai 4,9%, Malaysia 3,3%, dan Thailand 2,4%.

Tren sejak 2018 juga memperlihatkan rasio investasi asing Indonesia cenderung stagnan, sementara itu negara pesaing terus memperlihatkan peningkatan.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa investor global mengawali menyaksikan peluang yang makin menarik di negara lain.

Apa Dampaknya di Pasar Keuangan?

Tingginya ICOR juga menciptakan sejumlah indikator ekonomi merasakan tekanan cukup hebat, salah satunya terhadap pasar keuangan Indonesia sepanjang 2026.

Meski faktor global juga memengaruhi pergerakan tersebut, data itu memperlihatkan investor sedang mengalihkan dana ke negara yang menawarkan imbal hasil makin menarik bersama risiko yang makin rendah.

Lembaga Pemeringkat Mulai Memberikan Sinyal Kehati-hatian

Selain arus modal, sejumlah lembaga internasional juga disebut mengawali menyerahkan sinyal makin berhati-hati terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Bagi investor global, perubahan outlook semacam ini kerap menjadi sinyal demi mengevaluasi kembali strategi investasinya.

Bukan Hanya Soal Sumber Daya Alam

Indonesia dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun faktor itu saja tidak lagi cukup demi menarik investasi dalam jangka panjang.

Investor kini juga mempertimbangkan berbagai aspek lain bagaikan:

Tanpa perbaikan pada faktor-faktor tersebut, potensi ekonomi yang besar dinilai sulit dikonversi menjadi investasi yang berkelanjutan.

Mengapa ICOR Tinggi Menjadi Masalah?

ICOR yang tinggi pada akhirnya mencerminkan rendahnya produktivitas investasi.

Konsekuensinya antara lain:

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menghambat penciptaan lapangan kerja, ekspansi industri, hingga pertumbuhan ekonomi nasional.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *