Minyak Hampir USD120 per Barel, Dunia Masuk Era Suku Bunga Tinggi Lebih Lama

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Konflik berkepanjangan di Teluk Persia mengawali mengguncang fondasi ekonomi global. Memasuki bulan ketiga, ketegangan di sekitar Selat Hormuz memang masih belum sampai menutup jalur pelayaran minyak dunia secara fisik. Namun, risiko tinggi dan kompleksitas navigasi telah menciptakan “kemacetan fungsional” yang mengganggu sekitar 20% aliran minyak global.

Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak mentah Brent melonjak makin dari 60% dan sempat menyentuh US$119,50 per barel. Sementara minyak WTI bahkan sempat melesat hingga 78% dibandingkan level semasih belum konflik. Meski kini terkoreksi, harga minyak masih bertahan di dekat US$100 per barel—naik makin dari 20% sejak perang pecah.

Lonjakan harga energi itu kini memicu efek domino yang jauh makin luas: inflasi global kembali memanas dan harapan penurunan suku bunga bank sentral utama dunia mengawali buyar.

Laporan broker CFD global Elev8 menilai dunia kini memasuki fase baru “higher for longer”, yakni era suku bunga tinggi dalam waktu makin lama. Kondisi ini menciptakan pasar keuangan global semakin volatil, mengawali dari pergerakan dolar AS, euro, yen Jepang hingga harga emas.

“Perang secara efektif menghentikan narasi penurunan suku bunga pada 2026,” kata pakar pasar finansial Elev8, Kar Yong Ang.

Menurut dia, harga minyak yang tinggi bertindak layaknya pajak tambahan untuk konsumen global. Di satu sisi, daya beli melemah dan pertumbuhan ekonomi melambat. Namun di sisi lain, bank sentral tidak dapat buru-buru memangkas suku bunga lantaran inflasi energi masih terlalu tinggi.

Di Amerika Serikat, harga bensin telah mendekati US$4,25 per galon. Proyeksi inflasi konsumen atau CPI musim panas 2026 diperkirakan menembus 3,5%, jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%.

Situasi makin mengkhawatirkan terjadi di Eropa dan Inggris. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi menciptakan ancaman stagflasi—kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi lemah—semakin nyata.

European Central Bank (ECB) kini merevisi proyeksi inflasi 2026 menjadi 2,6% dari semasih belumnya 1,9%. Sementara Bank of England (BOE) diperkirakan menyikapi inflasi hingga 4%.

Akibatnya, pasar mengawali memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga setidaknya hingga Maret 2027. ECB, BOE hingga Bank of Japan (BOJ) juga disebut berpotensi tetap hawkish dan bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga tambahan.

Efek lain terlihat di pasar mata uang. Dolar AS kembali menjadi primadona lantaran status safe haven dan ketahanan energi domestik AS yang relatif makin kuat dibanding Eropa.

Sebaliknya, euro dan pound sterling terancam tertekan akibat pelemahan ekonomi kawasan. Sementara yen Jepang menyikapi dilema lantaran inflasi impor meningkat tajam akibat lemahnya mata uang domestik dan mahalnya energi.

Di tengah gejolak itu, emas kembali bersinar. Harga XAUUSD sempat melonjak ke level tertinggi multi-tahun mendekati US$5.430 per ons semasih belum bergerak stabil di kisaran US$4.600–4.800.

Meski kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif untuk emas, konflik geopolitik berkepanjangan justru menjaga permintaan safe haven tetap tinggi.

Elev8 memperingatkan volatilitas ekstrem kebarangkalian masih akan berlangsung selama situasi Timur Tengah masih belum mereda. Data persediaan minyak, keputusan bank sentral hingga perkembangan diplomasi AS-Iran disebut dapat menggerakkan pasar cuma dalam hitungan detik.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *