MediaMerdeka.com – Lanskap kejahatan siber internasional tengah merasakan pergeseran. Sindikat peretas global tak lagi sekadar berupaya membobol sistem pertahanan komputer.
Tren ancaman digital lintas negara kini justru menjadikan kelemahan psikologis manusia sebagai celah utama melalui taktik manipulatif yang dikenal sebagai rekayasa sosial atau social engineering.
Menghadapi disrupsi keamanan siber berskala global ini, industri teknologi di berbagai negara mengawali menyadari bahwa pertahanan terkuat bukan cuma perangkat lunak, melainkan juga kesadaran pengguna.
Fenomena kerentanan manusia di tengah pesatnya digitalisasi tersebut direspons serius oleh Akar Inti Enterprise, korporasi penyedia solusi teknologi informasi berbasis di Indonesia.
Sebagai integrator sistem kelas bisnis, korporasi ini menggelar kampanye kesadaran bertajuk “Now You See: Now You Aware” untuk para pemangku kepentingan industri.
Krisis Kesadaran di Tengah Gempuran Digital
CEO Akar Inti Enterprise, Astari Kartika Hadinata, menggarisbawahi bahwa lonjakan kejahatan virtual dalam sejumlah tahun terakhir masih belum diimbangi bersama literasi digital masyarakat sekitar.
“Kejahatan siber meningkat pesat dalam kurun waktu sejumlah tahun terakhir, namun kesadaran atas ancaman tersebut masih belum tinggi,” ujar Astari Kartika Hadinata.
Berbagai kajian keamanan siber global memperlihatkan bahwa serangan modern semakin terpersonalisasi demi menyerang emosi pihak korban, baik melalui rasa cemas maupun euforia sesaat.
Hal ini diamini Senior Adviser Fraud Banking Investigation BCA, Dr. Wani Sabu, yang membeberkan fakta mengenai modus operandi penipuan di sektor keuangan.
Di sektor perbankan modern, nyaris 99 persen kasus pembobolan ternyata bermula dari rekayasa sosial yang menargetkan kelengahan individu.
Ancaman Sindikat Penipuan Perbankan
Sindikat kejahatan lintas batas kerap menyamar sebagai layanan pelanggan bank atau instansi resmi demi menebar jebakan berupa tautan palsu hingga pengumuman undian fiktif.
“Kejahatan siber yang menyasar melalui social engineering memang masih menjadi masalah krusial di Indonesia, terutama demi sejumlah kalangan,” kata Wani.
Wani menegaskan bahwa rasa takut tertinggal tren atau FOMO kerap kali menciptakan calon pihak korban bertindak gegabah tanpa menjalankan verifikasi termakin dahulu.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

