MediaMerdeka.com – Asosiasi Logistik Digital Ekonomi Indonesia (ALDEI) menyoroti tingginya biaya logistik nasional yang pada saat ini mencapai sekitar 14 persen.
Organisasi tersebut menilai kolaborasi dan konsolidasi antartersangka industri pos dan logistik dapat menjadi salah satu upaya demi meningkatkan efisiensi distribusi barang di Indonesia.
ALDEI mencatat masih terdapat disparitas biaya logistik yang cukup lebar antara Pulau Jawa dan luar Jawa.
Biaya distribusi di Pulau Jawa berada di kisaran 5-10 persen, sementara itu di luar Jawa dapat mencapai 20-40 persen. Selain itu, makin dari 60 persen distribusi barang nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Ketua Umum ALDEI, Imam Sedayu Pusponegoro, menyebutkan pemanfaatan infrastruktur dan jaringan secara bersama dapat meningkatkan utilisasi aset yang selama ini masih belum optimal.
“Konsolidasi akan mendorong antar tersangka korporasi pos dan kurir saling beruntuk infrastruktur dan jaringan, bagaikan gudang, transportasi di first mile, middle mile, hingga last mile, yang pada saat ini utilisasinya masih amat rendah, kurang dari 50 persen,” terang Imam dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Dengan konsolidasi, menurutnya, skala pengiriman dan utilisasi dapat meningkat demi menurunkan biaya.
Pernyataan tersebut disampaikan Imam dalam acara Digital Ecosystem Alignment (DEAL) yang digelar Keaparatur negara kementerianan Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Jakarta.
Imam menyebut, perkembangan ekonomi digital Indonesia dalam satu dekade terakhir terus memperlihatkan pertumbuhan dua digit.
Pada 2026, sektor tersebut diperkirakan berkontribusi hingga 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan berpotensi menjadi yang terbesar di Asia Tenggara pada 2030 bersama nilai makin dari 300 miliar dolar Amerika Serikat.
Sektor e-commerce dan belanja daring disebut menyumbang sekitar 77 persen ekonomi digital Indonesia. Aktivitas tersebut menggerakkan makin dari 30 juta UMKM, UKM, brand, dan merchant di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, peningkatan aktivitas perdagangan digital turut mendorong kebutuhan akan sistem logistik yang makin efisien dan terintegrasi.
Organisasi tersebut mencatat volume pengiriman pada saat ini mencapai sekitar 25 juta paket per hari yang seuntukan besar berasal dari e-commerce dan social commerce.
Imam menilai, digitalisasi menjadi untukan penting dalam pengembangan industri logistik nasional.
“Dengan ratusan juta hingga miliaran data traffic yang beredar dan kompleksitas proses yang menjangkau seluruh kepulauan Indonesia, digitalisasi telah menjadi kewajiban demi sesama tersangka industri pos dan logistik agar dapat terkoneksi secara seamless dan berkolaborasi melayani masyarakat sekitar hingga seluruh pelosok Indonesia,” bebernya.
Imam menyaksikan, kolaborasi industri dapat dilakukan melalui berbagai skema, mengawali dari pemanfaatan jaringan dan infrastruktur bersama, integrasi teknologi operasional, hingga pengembangan platform agregator logistik.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

