MediaMerdeka.com – Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai rencana Presiden Prabowo Subianto mengajarkan bahasa asing sejak kelas 1 SD menjadi gagasan yang baik. Namun di sisi lain juga pihak pemerintah wajib menyiapkan guru dan fasilitas pendukung semasih belum kebijakan tersebut diterapkan.
Hetifah Sjaifudian mengingatkan, persoalan tenaga pengajar justru dapat menjadi tantangan besar apabila pembelajaran bahasa asing diperluas sejak sekolah dasar.
“Yang hati-hati lagi tentu saja ketersediaan guru. Jangankan bahasa asing, tentu saja bahasa daerah pun sejumlah yang punah pada saat ini lantaran penuturnya tidak ada,” kata Hetifah usai Sidang Tahunan MPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, pembelajaran bahasa asing relatif makin mudah didukung lantaran sumber belajar kini tersedia luas, termasuk melalui teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Namun, Hetifah menekankan teknologi tidak berarti menghilangkan kebutuhan terhadap guru. Menurutnya, anak tetap membutuhkan guru yang dapat berinteraksi secara langsung dan mengarahkan proses belajar bahasa.
“Seorang guru yang juga bertatap muka bersama anak demi mengarahkan bagaimana mereka belajar bahasa, itu tetap penting,” katanya.
Karena itu, dia mengimbau rencana pembelajaran bahasa asing sejak kelas 1 SD tidak berhenti sebagai gagasan. Pemerintah perlu menerjemahkannya ke dalam program yang jelas sekaligus mengonfirmasi kesiapan perangkat pendukung.
“Jadi wajib disertai bersama gurunya dan fasilitas lainnya bagaikan tadi, tentunya ya barangkali lab bahasanya dan sebagainya,” ujar Hetifah.
Hetifah menilai rencana tersebut membutuhkan persiapan secara simultan. Bukan cuma menentukan bahasa apa yang akan diajarkan, namun juga mengonfirmasi sekolah memiliki tenaga pengajar dan fasilitas yang memadai.
“Jadi itu satu ide yang bagus tapi nanti wajib diterjemahkan ke dalam bentuk program dan juga ketersediaan perangkat, sarana prasarana, dan guru-gurunya secara simultan,” tuturnya.
Semasih belumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana agar pembelajaran bahasa asing mengawali diberikan kepada kalangan anak sejak kelas 1 SD. Dalam pidatonya, Prabowo menyebut sejumlah bahasa asing yang dinilai penting, termasuk Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Prancis, hingga Rusia.
Bagi Hetifah, kesuksesan kebijakan tersebut pada akhirnya tidak cuma ditentukan oleh berapa sejumlah bahasa yang ditawarkan kepada siswa, namun juga apakah sekolah memiliki ekosistem pembelajaran yang mebarangkalikan anak benar-benar menguasainya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

