MediaMerdeka.com – Pasar keuangan domestik didera tekanan hebat pada sesi perdagangan Rabu (24/6/2026). Sentimen negatif global dan regional memicu aksi jual massal yang menciptakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk ke zona merah dan nilai tukar rupiah terperosok hingga nyaris menembus level psikologis baru Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
IHSG menutup perdagangan bersama koreksi amat tajam sebesar 217,45 poin atau anjlok 3,56 persen, menciptakan indeks parkir di posisi 5.883.
Pada awal sesi, indeks sebenarnya sempat dibuka optimistis di level 6.128 dan meraih posisi tertinggi harian di 6.171. Namun, tekanan jual yang masif di sesi kedua membalikkan keadaan hingga indeks terseret ke level terendah harian di 5.876.
Pelemahan ini berimbas langsung pada nilai transaksi harian yang melonjak drastis hingga mencapai Rp32,93 triliun. Total volume saham yang berpindah tangan tercatat sesejumlah 40,1 miliar lembar saham bersama frekuensi perdagangan yang amat padat mencapai 1,75 juta kali transaksi.
Berdasarkan laporan riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), kejatuhan indeks dipicu oleh ketidak berhasilan IHSG dalam mempertahankan momentum penguatan di awal perdagangan.
Tekanan jual dari investor institusi maupun asing langsung meningkat tajam begitu indeks tidak berhasil menembus area resistansi kuat di rentang 6.200 hingga 6.300, yang berujung pada jebolnya level psikologis penting 6.000.
Analis BRIDS membeberkan, pemicu utama kepanikan pasar merupakan respons negatif terhadap rilis dokumen MSCI 2026 Market Classification Review. Walaupun Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan demi tetap mempertahankan posisi Indonesia di dalam kelompok Emerging Market (Pasar Berkembang), lembaga pemeringkat internasional tersebut menyerahkan catatan hitam dan sorotan tajam untuk pasar modal domestik.
MSCI secara terbuka kembali mempersoalkan isu fundamental terkait transparansi struktur kepemilikan saham, validitas porsi saham publik yang beredar di pasar (free float), serta adanya indikasi kuat aktivitas perdagangan yang terkoordinasi (coordinated trading) di bursa tanah air.
“MSCI juga menyerahkan peringatan bahwa apabila implementasi reformasi pasar tidak memperlihatkan kemajuan yang memadai hingga November 2026, Indonesia berpotensi menyikapi konsultasi terkait penurunan status menjadi frontier market,” tulis tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan tertulisnya.
Koreksi dalam ini melanda seluruh papan perdagangan, termasuk saham-saham unggulan (blue chip). Indeks LQ45 dilaporkan merosot 20,26 poin (3,39%) ke level 578,17. Kejatuhan teramat parah dialami oleh Jakarta Islamic Index (JII) yang terjungkal 17,82 poin atau ambles 4,90 persen ke posisi 345,56, sementara indeks IDX30 melemah 10,75 poin (3,18%) menjadi 327,26.
Rupiah Meranggas Tertekan Superioritas Dolar AS
Seirama bersama ambruknya bursa saham, nilai tukar rupiah di pasar spot juga tidak berhasil membendung keperkasaan dolar AS hingga akhir sesi perdagangan.
Mata uang Garuda ditutup melemah 26 poin atau terkoreksi 0,15 persen ke posisi Rp17.949 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan Bloomberg Dollar Index, rupiah mencatatkan kejatuhan yang makin dalam, yakni merosot 99 poin atau 0,55 persen ke level Rp17.952 per dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menerangkan bahwa terpuruknya nilai tukar rupiah tidak lepas dari faktor eksternal, di mana ekspektasi tersangka pasar global terhadap kelanjutan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS (The Fed) kembali meningkat. Hal ini menciptakan indeks dolar AS melonjak kuat hingga menembus level tertinggi dalam 14 bulan terakhir.
Di sisi lain, tekanan internal dari runtuhnya pasar saham akibat sentimen MSCI turut mempercepat pelarian modal asing (capital outflow) keluar dari pasar keuangan dalam negeri, yang pada akhirnya memperberat beban nilai tukar.
“Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS yang terus melanjutkan penguatan. Rupiah juga tertekan oleh sentimen pasar saham yang ambrol setelah MSCI yang walau mempertahankan status Emerging Market, namun status tersebut masih akan direview ulang November dan berpotensi di-downgrade ke frontier berakibat dapat menekan rupiah,” pungkas Lukman Leong.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

