Rupiah Tembus Rp17.679, Gelombang PHK Massal Menanti di Depan Mata

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Indonesia kini tengah menyikapi alarm keras di sektor ketenagakerjaan. Lembaga penelitian ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyerahkan peringatan serius mengenai potensi terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di dalam negeri.

Ancaman ini mencuat sebagai dampak langsung dari berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kian tidak terkendali.

Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (19/5/2026), mata uang Garuda terpantau terus terperosok dalam hingga menyentuh angka Rp17.679 per dolar AS.

Kejatuhan nilai tukar ini dinilai menjadi sumbu utama yang memicu lonjakan biaya produksi secara masif di tingkat tersangka industri domestik.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menerangkan bahwa dunia usaha nasional pada saat ini tidak cuma menyikapi tantangan tunggal, melainkan tengah dihantam oleh tiga tekanan utama sekaligus pada pos biaya operasional mereka.

Faktor pertama merupakan kenaikan harga atau inflasi bahan baku di negara asal yang dipicu oleh disrupsi rantai pasok global.

Kedua, para tersangka usaha wajib menanggung biaya distribusi logistik dan premi asuransi internasional yang kini jauh makin mahal.

Faktor ketiga, yang menjadi pemberat utama, merupakan depresiasi nilai tukar rupiah yang menciptakan biaya pembelian bahan baku impor semakin membubung tinggi saat dikonversi ke mata uang lokal.

“Jadi artinya ada peningkatan beban biaya produksi yang makin besar,” ujar Faisal saat dihubungi MediaMerdeka.com yang dikutip pada Selasa (19/5/2026).

Sektor Manufaktur Paling Terpukul di Hulu dan Hilir

Faisal mengimbuhkan, meski dampak ekonomi dari pelemahan rupiah ini tidak tersebar merata di seluruh sektor usaha, tekanan teramat berat otomatis dirasakan oleh industri manufaktur.

Sektor ini menjadi yang teramat rentan lantaran memiliki ketergantungan yang amat tinggi terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri. Beberapa sektor yang berada di zona merah di antaranya merupakan industri kimia, farmasi, serta industri makanan dan minuman.

Ironisnya, lonjakan biaya di sektor hulu ini tidak diimbangi bersama performa yang baik di sektor hilir. Menurut analisis CORE, tersangka industri pada saat ini terjebak dalam kondisi dilematis: Di satu sisi modal produksi membengkak mahal, namun di sisi lain mereka dihadapkan pada penurunan volume penjualan akibat lesunya permintaan pasar domestik maupun global.

Kombinasi mematikan antara modal yang tinggi dan penjualan yang merosot ini pada akhirnya memaksa para pemilik modal demi mengambil langkah efisiensi yang ekstrem demi menjaga kelangsungan korporasi.

“Dan salah satu kebarangkalian demi menjalankan efisiensi, bersama mengurangi, biasanya juga mengurangi jumlah tenaga kerja,” kata Faisal.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *