Sering Terlambat Ditangani, Usus Buntu pada Balita Ternyata Paling Rawan Alami Kebocoran

admin
By
admin
2 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Radang usus buntu atau appendicitis akut pada balita makin sulit didiagnosis dibandingkan pada anak yang makin besar. Kondisi ini menciptakan penyakit tersebut kerap terlambat ditangani dan meningkatkan risiko komplikasi.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Himawan Aulia Rahman menyebutkan appendicitis akut merupakan salah satu penyebab teramat umum operasi pencernaan dalam kondisi darurat.

Meski teramat kerap terjadi pada usia remaja, radang usus buntu pada anak di bawah lima tahun justru memiliki risiko komplikasi yang makin tinggi.

Appendicitis akut ini teramat kerap terjadi di usia remaja belasan tahun, tapi uniknya usus buntu pada usia-usia yang makin kecil, di bawah lima tahun, kejadian komplikasi makin kerap dibandingkan kalangan anak yang usianya makin tua,” ungkap Himawan dalam media briefing IDAI secara virtual, Selasa (1/9/2026).

Salah satu kendala utama merupakan keterbatasan komunikasi. Balita yang masih belum mampu berbicara atau menerangkan keluhannya bersama baik akan kesulitan memperlihatkan lokasi maupun karakter nyeri yang dirasakan.

Akibatnya, gejala radang usus buntu pada balita dapat terlambat dikenali.

Salah satu komplikasi berat yang dapat terjadi merupakan perforasi, yakni kondisi ketika usus buntu bocor berakibat isinya keluar ke rongga perut dan memicu infeksi.

“Komplikasi yang salah satu komplikasi terberat dari usus buntu itu merupakan usus buntu itu bocor, istilahnya merupakan perforasi,” ujar Himawan.

Selain keterbatasan komunikasi, diagnosis juga menjadi tantangan lantaran sakit perut pada balita dapat menyerupai berbagai penyakit lainnya.

Kenali Gejala Khas

Berbeda bersama balita, anak yang makin besar dan remaja umumnya merasakan gejala radang usus buntu yang makin mudah dikenali.

Gejalanya dapat diawali bersama penurunan nafsu makan, lalu sakit perut di sekitar pusar atau ulu hati, muntah, hingga nyeri yang berpindah dan menetap di untukan kanan bawah perut.

Karena deteksi dini pada balita makin sulit, orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi anak, terutama ketika sakit perut semakin berat. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain: 

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *