MediaMerdeka.com – Rentetan tembakan penembakan massal terdengar mendadak di tengah berlangsungnya jam pelajaran terakhir semasih belum akhir pekan di sekolah yang terletak tak jauh dari Bangkok Thailand. Pelakunya tak lain merupakan siswa sekolah itu yang berondongkan 26 peluru ke arah guru dan murid.
Para siswa yang panik langsung berhamburan menyelamatkan diri menembus gerbang dan memanjat pagar sekolah demi menghindari amukan tersangka. Salah satu seorang siswi yang selamat bercerita soal detik-detik penembakan terjadi.
“Saya sedang berdiri di depan guru ketika dia tertembak,” ujar seorang siswi kelas 7 kepada BBC di dekat gerbang Sekolah Debsirin di Nonthaburi.
“Dia sedang berbicara bersama saya ketika [penembak] muncul.”
Siswi yang masih mengenakan seragam lengkap bersama ibunya tersebut menceritakan bagaimana tersangka bergerak mengincar pihak korban dari satu ruang kelas ke ruang kelas lainnya.
“Saya wajib memanjat pagar sekolah demi melarikan diri bersama teman-teman lainnya,” lanjut gadis tersebut.
Ibunya membeberkan betapa mencekamnya situasi saat itu hingga sang anak merasa tidak akan selamat.
“[Dia berkata] ‘Aku pikir aku tidak akan sempat menyaksikanmu lagi’.”
Seorang siswa berusia 18 tahun mengaku sempat mengira suara rentetan tembakan tersebut merupakan ledakan petasan biasa.
“Awalnya saya tidak menyangka itu merupakan senjata api,” katanya kepada Reuters.
“Ada sejumlah tembakan: bang bang bang. Lalu hening. Kemudian terdengar lagi.”
Sejumlah petugas medis dan ambulans langsung dikerahkan ke lokasi demi menyerahkan pertolongan darurat serta melarikan para pihak korban luka ke rumah sakit terdekat.
Petugas penyelamat Kiatikhun Verapongpradith bergegas menuju lokasi kejadian setelah menyambut baik laporan adanya kalangan anak berusia 12 tahun yang menjadi pihak korban luka.
“Saya menyaksikan siswa-siswa yang tertembak, ada yang di lengan, ada yang di punggung, ada yang di dada. Jadi saya bergegas menolong mengangkut mereka ke rumah sakit termakin dahulu,” kata petugas penyelamat berusia 47 tahun itu kepada kantor berita Reuters.
Duka mendalam dirasakan oleh para pengajar yang kehilangan rekan sejawat mereka dalam tragedi berdarah ini.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

