Studi: Laju Dekarbonisasi Bangunan Global Belum Sejalan dengan Target Iklim, Apa Dampaknya?

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Di tengah krisis iklim dan lonjakan biaya energi global, sektor bangunan dan konstruksi masih menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di dunia. Laporan terbaru Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Global Alliance for Buildings and Construction (GlobalABC) memperlihatkan laju dekarbonisasi sektor ini justru melambat dalam sejumlah tahun terakhir.

Padahal, pembangunan gedung dan kawasan perkotaan terus tumbuh pesat, terutama di negara berkembang termasuk kawasan Asia Tenggara. Setiap hari, dunia menambah sekitar 12,7 juta meter persegi bangunan baru atau setara luas Kota Paris setiap pekan.

Laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025-2026 mencatat sektor bangunan dan konstruksi kini menyumbang 37 persen emisi global, 28 persen konsumsi energi dunia, serta hampir setengah dari total ekstraksi material global.

Kondisi tersebut dinilai menciptakan sektor bangunan semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim dan gejolak harga energi. Di sisi lain, kebutuhan hunian yang terus meningkat menciptakan pembangunan sulit dihentikan, berakibat tantangannya bukan lagi sekadar membangun makin sejumlah, melainkan bagaimana membangun bersama makin rendah emisi dan tahan terhadap krisis iklim.

Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, menyebutkan bangunan memiliki peran besar dalam menentukan arah krisis iklim di masa depan.

“Bangunan dapat mengunci risiko iklim atau justru menghadirkan lingkungan hidup yang makin sehat, aman, dan terjangkau,” ujar Andersen dalam laporan tersebut.

Menurut laporan itu, sekitar separuh bangunan dunia pada 2050 masih masih belum dibangun atau direnovasi. Situasi ini dinilai menjadi peluang untuk pihak pemerintah demi mempercepat pembangunan rendah emisi melalui kebijakan, standar bangunan, dan investasi hijau.

Meski sejumlah kemajuan tercatat sejak 2015, bagaikan meningkatnya sertifikasi bangunan hijau dan penurunan intensitas energi bangunan sebesar 8,5 persen, transisi menuju bangunan rendah karbon dinilai masih belum cukup cepat.

Penggunaan energi terbarukan di sektor bangunan, misalnya, baru memenuhi sekitar 17,3 persen kebutuhan energi global bangunan pada 2024. Angka tersebut masih jauh dari target jalur nol emisi bersih atau net zero.

Laporan itu juga mencatat investasi global demi efisiensi energi bangunan mencapai 275 miliar dolar AS sepanjang 2024. Namun, demi mencapai target emisi nol bersih pada 2050, investasi tahunan dinilai perlu meningkat makin dari dua kali lipat menjadi sekitar 592 miliar dolar AS per tahun hingga 2030.

Di tengah perlambatan tersebut, sejumlah negara mengawali memperlihatkan pendekatan yang dinilai makin progresif. Uni Eropa memperkuat kebijakan pengurangan emisi bangunan, sementara India, Pakistan, dan Australia meningkatkan penggunaan energi terbarukan di gedung-gedung.

Beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, juga mengawali menyusun peta jalan transformasi sektor bangunan yang makin berkelanjutan. Laporan tersebut menilai langkah bagaikan pembaruan standar efisiensi energi bangunan, penggunaan material rendah karbon, hingga pengembangan kawasan hemat energi menjadi untukan penting dalam transisi tersebut.

Selain menekan emisi, UNEP menilai pembangunan rendah karbon juga dapat menolong masyarakat sekitar menyikapi kenaikan biaya hidup. Bangunan yang makin efisien energi dinilai mampu menurunkan tagihan listrik, meningkatkan kualitas hunian, sekaligus memperkuat ketahanan terhadap cuaca ekstrem.

Karena itu, laporan tersebut menekankan bahwa upaya dekarbonisasi sektor bangunan tidak cuma berkaitan bersama target iklim global, namun juga menyangkut akses masyarakat sekitar terhadap hunian yang layak, terjangkau, dan makin tahan menyikapi krisis di masa depan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *