Terkuak, Instruksi ‘Rem Dikit-dikit’ di Balik Tragedi KA Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, membeberkan, bahwa asas positive thinking atau berprasangka baik dari petugas Pusat Pengendalian (Pusdal) menjadi alasan di balik instruksi pengereman yang diberikan kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek semasih belum menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Soerjanto menerangkan, saat peristiwa akan terjadi, koordinasi antara Pusdal Manggarai dan masinis KA Agro Bromo cuma dilakukan melalui komunikasi suara (voice).

Ketiadaan pantauan visual secara langsung menciptakan petugas di pusat kendali tidak menyadari tingkat bahaya yang sebenarnya di lapangan.

Menurutnya, lantaran tidak mengetahui situasi riil di titik lokasi, petugas Pusdal kemukinan berasumsi bahwa gangguan atau “temperan” yang dilaporkan bukanlah ancaman fatal.

Alhasil, instruksi yang dikeluarkan pun diduga cuma bersifat imbauan kewaspadaan standar.

“Karena memang di Pusdal kan temperan bagaikan apa, mereka masih belum tahu kondisi lapangannya bagaikan apa, maka dia positive thinking saja bahwa kurangi kecepatanlah. Intinya demi berhati-hati,” ujar Soerjanto usai rapat kerja Komisi V DPR RI membahas tragedi kecelakaan kereta api bersama KRL di Bekasi Timur di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Sikap positive thinking ini diduga berujung pada instruksi yang kurang tegas untuk masinis cuma demi mengerem sedikit-sedikit bukan demi dalam waktu dekat menghentikan rangkaian kereta secara total.

Dia (Pusdal) enggak tahu, cuma memberitahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit terus lalu sejumlah-sejumlah menjalankan Semboyan 35 (klakson). Nah itu aja yang disampaikan,” tambahnya.

Berdasarkan data yang dihimpun KNKT, masinis KA Argo Bromo Anggrek sebenarnya telah merespons informasi tersebut sejak jarak 1.300 meter semasih belum lokasi kejadian.

Namun, lantaran instruksi dari pengendali operasi di Manggarai cuma mengimbau demi “ngerem sedikit” dan mempersejumlah semboyan 35, pengereman maksimal tidak dilakukan sejak awal.

“Masinis telah menjalankan pengereman. Cuma lantaran situasinya kan di Pusdal itu tidak tahu yang sebenarnya lantaran komunikasinya lewat suara saja. Masinis telah merespons apa yang disampaikan oleh Pusdal,” jelas Soerjanto.

Meski faktor positive thinking dan keterbatasan informasi suara ini menjadi sorotan, KNKT menegaskan masih terlalu dini demi menetapkan penyebab tunggal kecelakaan.

KNKT memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga bulan demi mengevaluasi data-data teknis lainnya.

“Untuk menyimpulkan apa yang menjadi penyebab ini masih terlalu dini lah. Kita perlu waktu lagi demi mengevaluasi ada sejumlah data yang masih kita butuhkan dan masih kita olah,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *